Karapan Sapi, Tertatih Nasibmu Kini

by - March 24, 2014

karapan sapi, adalah budaya suku madura dari jaman sebelum Belanda menjajah negeri kita. banyak masyarakat yang sudah tidak lagi mengenal pagelaran budaya yang satu ini. tidak penting, begitu dalih mereka.

tapi tidak dengan saya, sebagai mahasiswi asli kalimantan yang diberi kesempatan oleh tuhan untuk berkuliah di Surabaya, saya dan saudara kembar saya memiliki motto "Never Ending to Explore" di kota pahlawan ini. yah, Surabaya dengan segala yang dia punya tidak pernah habis bagi kami untuk terus menikmati sajiannya.

bertepatan dengan rangkaian event HARI JADI KOTA SURABAYA YANG KE 721 tahun 2014, kami menghadiri pagelaran karapan sapi yang bertempat di lapangan pantai ria kenjeran lama, jalan Sukolilo. Surabaya timur pada hari Minggu tanggal 23 Maret 2014



bukan hal yang mengherankan kenapa karapan sapi dimasukkan dalam rangkaian acara hari jadi Kota Surabaya, karena salah satu suku asli penghuni Kota Surabaya adalah suku madura.

acara dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. di awal sapi sapi dikirab (seperti diarak) mengelilingi lintasan karapan tujuannya agar para sapi mengenali lintasan karapan mereka diiringi oleh para pemusik pengiring kirab sapi. sapi sapi ini juga dipakaikan aksesoris kirab karapan.






sebagai informasi, sepasang sapi sapi karapan ini keduanya berjenis kelamin jantan. sapi sapi ini bukan sapi biasa yang disembelih ketika hari raya idul adha, mereka adalah sapi khusus karapan yang hanya ada di pulau madura, kata pemilik sapi. cara mengenali sapi biasa dengan sapi karapan adalah dengan mengajak sapi ini berlari, jika tidak bisa berlari, itu artinya sapi tersebut bukan sapi karapan. kisaran harga jual sapi sapi karapan ini cukup fantastis, yaitu sekitar 100-500 juta rupiah per ekornya, ini sangat berbeda dengan sapi biasa yang harga jualnya sekitar 10-15 juta rupiah.

sepasang sapi sapi karapan ini memiliki nama sendiri sendiri, seperti "halilintar" "laut biru" "sang pelita" "si kembar" dll, ketika saya tanya kepada pemilik sapi karapan, mereka mengatakan bahwa penamaan pasangan sapi karapan dan keputusan memasangkan satu sapi dengan sapi lainnya tidak boleh sembarangan, karena memiliki nilai filosofi sendiri sendiri, ketika saya tanya siapa yang memberi nama dan berwenang memasangkan sapi karapan mereka menjawab "orang alim". orang alim dalam hal ini adalah orang yang dituakan di kampung mereka (para pemilik sapi karapan) yang memiliki kemampuan dalam hal agama lebih dari yang lain, karena mereka "para orang alim" dipercaya bisa mendoakan keberkahan dan keselamatan bagi sapi sapi mereka.

setelah sapi sapi karapan dikirab, ada persembahan tarian yang berjudul "tari karapan sapi" sekilas tarian ini bercerita tentang filosofis, sejarah, prosesi, dan makna dari pagelaran karapan sapi, salah satu yang menarik di tengah tengah tarian adalah ungkapan "dalam karapan sapi juara dan tidak adalah sama saja, karena semua adalah juara"





setelah tarian selesai, maka dilakukan persiapan karapan sapi. diantaranya sapi sapi dilepas aksesoris kirabnya (karena berat, kata pemilik sapi) diberi makan, dan minum.




Lintasan karapan Sapi

Lintasan Karapan Sapi


dan MULAI







joki yang menunggangi sapi sapi karapan ini tidak boleh sembarangan, mereka harus orang yang direstui oleh "orang alim" dan memiliki pengalaman puluhan tahun sebagai joki karapan, ini terlihat ketika saya berbincang-bincang dengan para joki karapan ini, usia mereka sekitar 40-an tahun.

sebelum pagelaran karapan sapi diakhiri, kami disuguhi tarian yang saya lupa namanya







ketika saya tanya, kepada para pemilik sapi karapan ini apakah budaya karapan sapi masih "asli" tanpa improvisasi karena zaman mereka menjawab karapan sapi kini berbeda dengan yang dulu, salah satu yang paling kentara adalah karapan sapi dulu, di pantat sapi ada semacam duri yang berfungsi untuk melecut sapi agar larinya lebih kencang, namun kini itu tidak diperbolehkan lagi karena dianggap sebagai salah satu bentuk kekerasan pada hewan, yang dalam hal ini adalah sapi karapan.

saya kemudian bertanya tentang antusiasme masyarakat terhadap salah satu warisan budaya ini, dan para pemilik sapi karapan ini mengaku antusiasme masyarakat terhadap budaya ini sudah sangat menurun, terlihat dari kurangnya intensitas diadakannya pagelaran karapan sapi ini. jujur saya akui di Surabaya pagelaran karapan sapi setau saya hanya satu tahun sekali, sementara di tempat asli budaya ini (madura) para pemilik sapi mengaku sudah tidak tentu kapan diadakan pagelaran karapan sapi. "kalau dulu satu bulan bisa dua sampai tiga kali mbak" kata mereka.

saya kembali bertanya apa sih sebenarnya keuntungan mengikuti karapan sapi selain hadiah, dan mereka menjawab, ajang ini dimaksudkan untuk menguji kekuatan berlari sapi sapi karapan, meskipun tidak menang. uji kemampuan ini juga menjadi acuan dalam menentukan harga jual sapi karapan ini.

yah terlepas dari semuanya, saya hanya berharap semoga pagelaran karapan sapi ini terus bisa dilestarikan sebagai salah satu ciri khas dari masyarakat suku Madura, suku asli Indonesia.




Surabaya, 24 Maret 2014




Rifa Akhsan



Photo taken by : @rusmaakhsan

You May Also Like

2 comments

  1. salam kenal,

    pengalaman menarik bro,
    kunjungi balik ya,
    ditunggu kedatangannya di sumatera barat.

    terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah mudahan panjang umur dan segera diberi kesempatan oleh Tuhan :)

      Delete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.