Serpihan Cerita Diantara Debu Proyek

by - June 13, 2014


hari itu entah kenapa saya melangkah ke proyek dengan perasaan melankolis yang super sensitif untuk ngecek cor - coran plat dan melihat persiapan pembesian untuk kolom di lantai 2.


tidak seperti biasa, pak tukang yang biasanya berjumlah tiga puluhan orang menyusut menjadi kurang dari sepuluh orang, ketika saya tanya kepada pak Dul, sang kepala tukang beliau menjawab "ke kampung mbak, kecapekan. kan habis nerima bayaran"

bisa anda bayangkan berapa bobot dari besi tersebut 
saya terdiam, mereka berhak untuk pulang (meskipun pada akhirnya membuat time schedule jadi molor) mereka punya anak yang tidak boleh putus pendidikannya, mereka punya istri yang harus dicukupi nafkah lahir bathin nya, mereka bertanggung jawab untuk dapur yang terus mengepul dan kebutuhan sandang yang menuntut untuk bersikap konsumtif.
mbak mbak proyeknya a.k.a saya lagi ngecek persiapan pemasangan besi kolom
mereka adalah ayah ayah yang tanpa sadar mengingatkan saya pada ayah saya, yang selalu saya panggil dengan sebutan "abah". kebanyakan anak perempuan justru lebih dekat dengan ibu, berbeda dengan saya yang justru lebih dekat dengan abah. bagi saya abah adalah idola dan umi (ibu saya) adalah pendamping sekaligus pembimbing. iya, saya memiliki kedekatan dengan abah lebih daripada kebanyakan teman teman perempuan saya.
dengan jalan ini mereka menjemput rezeki yang halal
abah saya adalah seorang insyur sipil yang dua puluh tahun lebih duluan dari saya terjun dalam rimba konstruksi ini. bukan, bukan masalah profesi yang saya persoalkan. tapi cara semua ayah dalam aplikasinya menjemput rezeki halal demi kesejahteraan hidup keluarganya yang menjadi sorotan saya.

mbak mbak proyek a.k.a saya yang dijuluki pak tukang sebagai "srikandi proyek" 
sebagai seorang anak, saya juga pernah ngambek pada abah saya untuk hal hal yang begitu childish, saya juga pernah tidak serius dalam menjalani pendidikan saya dengan alasan jenuh pada guru yang memiliki kesulitan dalam menyampaikan materi (cara mengajarnya tidak enak) padahal itu adalah pelajaran sulit. saya pernah membolos sekolah dengan alasan males sekolah atau terlambat bangun, saya pernah mencontek ketika ujian dengan alasan benci dengan salah satu pelajaran tapi bersikap pengecut karena takut mendapat nilai jelek, dan banyak sekali kenakalan kenakalan yang pernah saya lakukan sebelum akhirnya saya bergabung dengan rimba konstruksi. bergabung di jalan dimana ayah saya menjemput rezeki demi lancarnya pendidikan dan hidup saya.


sebagai seorang anak, terlebih anak yang mengetahui persis besarnya pengorbanan seorang ayah untuk keluarganya, saya cuma bisa bilang.....

sampaikan ungkapan betapa sayangnya kamu pada ayahmu atas pengorbanan beliau selama ini, selagi beliau masih hidup dan kamu masih bisa melihat senyumnya.....

ucapkan sesimple saya bilang : "abah, kakak sayang abah" 

kalian memang lebih mudah menyampaikan perasaan kepada ibu karena pribadi ibu yang cenderung lebih "hangat". tapi percayalah, ucapan sesederhana "aku sayang ayah" begitu berarti bagi ayah kalian.



Surabaya, 13 Juni 2014



Rifa Akhsan


You May Also Like

2 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.