Bromo, Mahakarya dengan Sejuta Decak Kagum

by - July 08, 2014

saya bukan pecinta gunung, saya lebih menyukai laut. tapi hari itu teman teman teknik sipil mengajak saya ke bromo dengan bilang "ayoo rifaaa kamu kan belum pernah naik gunung" dengan berasumsi "udahlah, sekali sekali juga" saya pun mengiyakan



saya tidak tahu sebelumnya bahwa kalau kita ke bromo kita harus tau tujuan kita mau kemana, karena ada beberapa destinasi wisata di Bromo. dengan santainya saya mah ikut ikut aja jadwal teman teman.



setelah browsing saya mendapat kesimpulan bahwa bromo di waktu shubuh sangat dingin untuk ukuran wilayah tropis seperti Indonesia, namun tidak sedingin winter. jadi saya memutuskan untuk memakai semua winter stuff untuk menghadapi "cuaca" Bromo.


winter stuff lengkap minus winter boots

saya diingatkan oleh teman teman sebaiknya tidak memakai sepatu winter karena medan Bromo yang berpasir, jadi saya memutuskan untuk memakai sepatu basket.

saya tidak akan menjelaskan tata cara how to reach Bromo dan berapa harga tiket masuknya karena sudah banyak informasi tentang itu.

dan fajar mulai muncul menerangi wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menunjukkan pada saya salah satu mahakarya ciptaan tuhan.



setelah fajar selesai memberikan persembahannya untuk wajah alam, teman teman mengajak saya untuk naik ke puncak yang akhirnya saya tau tujuan kami : kawah bromo.

awalnya saya sempat ragu, melihat tingginya posisi kawah dari tempat saya berdiri, disamping saya khawatir asma saya kumat. tapi dengan sugesti "kapan lagi kamu naik gunung faaaa" dan "aku kan udah bawa inhaler" berbekal keyakinan kalo saya bisa sampe puncak, saya pun mengiyakan ajakan teman teman untuk ke kawah.

perjalanan ke kawah (cuma sedikit dari yg foto bersama tadi yg ikut ke kawah)
saya ga hitung berapa lama saya baru nyampe di puncak, yang jelas tiap beberapa meter temen temen berhenti untuk foto dan kasih saya waktu untuk istirahat

salah satu pemandangan sebelum mencapai puncak
dan akhirnyaaaa, saya sampai juga di kawah bromo :)



kawah bromo mengajarkan saya tentang keadilan tuhan. di cuaca yang cukup dingin, tuhan masih begitu menyayangi hambanya dengan menciptakan kawah yang sedikit banyak bisa menghangatkan ditengah cuaca dingin :)

saya sadar setelah melongok ke bawah, saya berada di puncak :) 


mendaki gunung (untuk mencapai kawah) pertama kali mengajarkan saya bahwa : mendaki tidak pernah mudah. ketika kita sampai di puncak, pasti banyak yang melihat posisi kita dengan sinis, tapi mereka tidak lebih dari titik kecil di kejauhan, ada banyak hal yang lebih menarik untuk dinikmati yang tersaji dihadapan kita dibandingkan dengan melongok betapa tingginya kita. 
pemandangan sekitar kawah bromo
di tengah tengah berdecak kagum melihat keindahan mahakarya tuhan, pandangan saya jatuh pada bapak bapak berumur yang berjualan eidelweiss 


saya bukan pengamat botani, tapi saya cukup tau bahwa eidelweiss tidak tumbuh di Bromo. saya dekati bapak tersebut dan saya tanya "ambil eidelweiss nya dimana pak ?" yang dijawab dengan "di semeru mbak, di kalimati"

saya terdiam, saya cukup tau seberapa jauh Semeru dengan Bromo, bapak tersebut bercerita beliau ke semeru dengan menggunakan taksi (taksi daerah sana berupa mobil hartop) sampai pos terakhir dan berjalan kaki dari pos terakhir sampai kalimati. saya tidak pernah ke semeru tapi saya pernah nonton film Indonesia yang mendokumentasikan pendakian ke puncak semeru, dan saya bisa bayangkan seberapa jauh bapak tersebut berjalan untuk memetik eidelweiss kemudian menuju bromo naik taksi (lagi) dan mendaki menuju kawah bromo dan berjualan. setiap pagi, setiap hari.

dengan harga eideilweiss yang kurang dari lima puluh ribu rupiah (itupun masih bisa ditawar) bapak tersebut konsisten berjualan eidelweiss selama bertahun tahun. disini tuhan kembali mengajarkan saya, betapa saya telah begitu beruntung dengan segala kemudahan dalam hidup saya. 

Bromo, dibalik decak kagum para pengujungnya, terdapat kisah pilu kemiskinan dengan sebab yang sangat ironis "mereka tidak mendapat pendidikan yang memadai" yah, keterbatasan ilmu membuat mereka harus melakukan pekerjaan sesuai dengan kapabilitas dan dihargai sesuai dengan kapabilitasnya pula.

Bromo, mengajarkan saya. ketika saya merasa hidup terlalu sulit, masih ada mereka yang bahkan hanya untuk sesuap nasi harus berjalan berpuluh - puluh kilometer untuk memetik eidelweiss. 

saya sempatkan untuk membeli eidelweiss sebagai bentuk simbolis yang terus mengingatkan saya pada Bromo : semoga pelajaran hidup yang tuhan beri pada saya akan terus abadi dalam ingatan saya. semoga.

Bromo, terima kasih untuk cerita dan memori yang engkau torehkan pada saya :)

Me with All the GOD'S creation
Him with all the GOD'S creation
Surabaya, 8 Juli 2014



Rifa Akhsan

You May Also Like

2 comments

  1. Halo, Kak :)
    Selamat, kakak dapet kado dari aku. Diterima ya. Terima kasih :D

    The Liebster Award
    http://bulantheirongirl.blogspot.com/2014/07/the-liebster-award.html

    ReplyDelete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.