Berhenti Mencari, Berharap Abadi

by - September 06, 2014

saya adalah seseorang yang sangat takut akan pernikahan, karena menurut saya pernikahan itu ribet.

ribet ? jelas. menyatukan dua pemikiran dalam satu keputusan sama sekali bukan hal mudah.



sampai akhirnya ada seseorang yang dengan tawanya bilang ke saya "ah, itu cuma gara gara kamu belum nemu yang pas aja sih". yup dia Rusma, saudara kembar saya.

mungkin apa yang dia katakan benar, saya pernah punya pengalaman dengan partner terbaik saya. hubungan kami lebih menyakitkan dari yang saya duga karena saya masuk sebagai "orang ketiga versi pacarnya" hubungan mereka sempat mengalami putus nyambung selama dia bersama saya, parahnya saya tidak sadar kalo ternyata saya mencintainya. ketika saya sadar rasanya sangat menyakitkan karena saya harus tetap bersikap professional apapun yang saya rasa. cinta sendiri, itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat itu. dan endingnya dia balikan sama mantannya. hubungan mereka setau saya sampai hari ini juga baik baik saja.

baik baik saja bagi mereka, meninggalkan trauma bagi saya.

ketika saya tau dia balikan sama mantannya hati saya sakit, that i'm sure i've done that. saya terpikir untuk bunuh diri. yes i did it, stupid things.

saya mengalami fase yang dinamakan orang "patah hati" saya menjadi seseorang yang sangat menyedihkan. setidaknya itu yang dikatakan teman teman terdekat saya.

sampai akhirnya saya sadar bahwa "ternyata saya sedih bukan karena kehilangan dia, atau dia memilih orang lain. tapi karena saya kehilangan partner yang paling bisa diandalkan, teman curhat, reminder, supporter, dll. dalam satu orang"

dan itu menguak fakta lain bahwa ternyata saya tidak mencintainya. karena dalam hemat saya kalau benar saya mencintainya, maka saya akan merindukannya. bukan merindukan kenangan bersama dia.

hari berlalu dan saya tetap menatap takdir dengan senyum dan wajah tegak. anehnya hubungan saya dengan dia tetap baik. dan saya baik baik saja.

sampai akhirnya di perkuliahan saya bertemu dengan seseorang, dia begitu misterius dengan segala yang ada di dirinya. saya bukan teman dekatnya. kami hanya berteman baik.

awalnya saya begitu mengabaikannya, dia hanyalah satu diantara sekian. begitu pikir saya.

sampai akhirnya saya gusar karena wajah itu yang selalu muncul disaat ruang pikir memiliki celah kecil, dia menarik saya untuk terus mengarahkan pikiran saya kepadanya. tanpa saya sadari.

saya kesal dengan perasaan ini, saya datangi dia dan saya tumpahkan kekesalan saya padanya, saya bilang padanya "kamu, sumber masalah saya" yang dijawab dia dengan "aku ga maksud kok. terserah kamu kalo itu yang kamu alami". hanya satu kalimat, tapi sukses membuat saya semakin kesal dibuatnya.

keadaan tidak berhenti sampai situ karena tanpa saya sadari hubungan saya dengannya semakin dekat, saya jatuh cinta dengan isi kepalanya. isi kepalanya, bukan orangnya.

sudut pandangnya yang sangat berbeda, kepribadiannya, cara dia menyelesaikan masalah, kebiasaan kebiasaan ajaibnya, sangat membuat saya terhenyak. semakin kesal saya dibuatnya.

singkat cerita kebersamaan saya dengannya semakin menambah kekesalan saya padanya, tapi saya tidak kuasa untuk menjauh darinya. lucu memang, karena dia bilang saya adalah seseorang yang benar benar tau aslinya dia. dan saya akui juga dia adalah seseorang yang benar benar tau aslinya saya.

disini saya nyatakan bahwa saya bisa memahami kenapa seseorang ingin menikah. karena mereka sudah berhenti mencari, dan berharap apa yang mereka miliki abadi.

karena saya mengalaminya.



Surabaya, 5 Maret 2014




Rifa Akhsan

#RePost

You May Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.