Menikah, Siapkah ?

by - December 21, 2014

kapan nikah ?

kapan nyusul ?

lhoo calon nya kok belum dikenalin ?

mungkin itu pertanyaan pertanyaan yang sering menghampiri perempuan perempuan gila karir (seperti saya)

akhir akhir ini saya sering sekali tergabung dengan curhatan ibu ibu tentang parenting dan pola perilaku anak (padahal saya belum menikah).

ada satu hal yang saya tergelitik disana, mereka membahas tentang pola didikan anak yang menyebabkan si anak memiliki mental abuse atau emotional abuse (mental dimana anak seringkali diancam, dibentak, dipermalukan, dipersalahkan, dan bentuk kekerasan secara emosional lainnya yang menyebabkan si anak berbuat sama kepada teman atau pasangan dan anaknya di masa depan)



saya melihat anak anak yang mengalami mental abuse ini sangat banyak, dan menyedihkan berteman dengan mereka. mereka cenderung menyakiti orang orang terdekatnya secara emosi. seperti menancapkan perasaan bersalah tanpa alasan yang jelas.

setelah saya baca sana sini dan memperhatikan lebih jauh tentang pola perilaku anak anak ini, saya menemukan fakta miris tentang penyebab mereka mengalami mental abuse.

PENYEBAB SEORANG ANAK MENGALAMI MENTAL ABUSE ADALAH ORANG TUA YANG TIDAK SIAP MENIKAH

ironis.

sangat.

disaat banyak pasangan lain menunggu nunggu untuk memiliki anak, mereka (orang tua pencetak anak anak dengan mental abuse) malah memperlakukan anak mereka dengan begitu buruk.

tidak bisa disalahkan, karena tidak semua calon orang tua mau belajar lebih jauh tentang bagaimana cara mendidik anak.

akarnya adalah tentang pernikahan, miris sekali ketika saya menemukan fakta lain tentang fenomena mental abuse ini. orang tua dari si anak yang bermental abuse ini kebanyakan berlatar belakang pendidikan rendah dan (mohon maaf) sulit secara finansial.

saya tidak akan mengomentari tentang hak ayah sebagai wali, namun di pelosok pelosok negeri ini, masih banyak para ayah yang menikahkan anak perempuannya di umur yang masih sangat muda dengan laki laki yang (terlihat) baik dan baru beberapa bulan dapat pekerjaan. tanpa bertanya apakah si anak perempuan sudah siap untuk menikah. pikiran si ayah simpel, kalau anak perempuannya segera dinikahkan maka tanggungan keluarga secara finansial berkurang. yang tadinya harus menyiapkan makan untuk sekian orang, karena si anak sudah menikah maka jatah makan hemat satu porsi. lumayan untuk hidup di besok hari.

begitu juga dengan si anak laki laki yang juga (mohon maaf) berpendidikan rendah dan kebetulan diterima bekerja di sebuah perusahaan langsung menyukai si anak perempuan dan langsung berniat menikahi anak tersebut.

tanpa dia bertanya pada dirinya sendiri apakah mentalnya siap untuk menikah.

hal hal seperti inilah cikal bakal anak anak bermental abuse.

salah satu ciri laki laki yang mentalnya belum siap menikah adalah ketika disinggug tentang pernikahan yang ada di kepalanya hanya sex sex dan sex.

seorang laki laki yang mentalnya siap untuk menikah adalah laki laki yang ketika disinggung tentang pernikahan maka yang ada di kepalanya adalah tentang bagaimana membentuk sebuah keluarga.

karena menikah adalah tentang membina sebuah masyarakat kecil.

jangan memaksakan diri menikah hanya karena desakan sana sini padahal kamu sendiri merasa belum siap.

memang, sampai kapanpun tidak ada orang yang siap dengan pernikahan. namun setidaknya biarkan dirimu mau menerima dulu tanggung jawab untuk membentuk sebuah keluarga.

sebenarnya apa yang salah dengan pertanyaan kritis seorang anak sehingga kamu harus membentak seraya berkata "JANGAN TANYA YANG ANEH ANEH" selain karena kamu yang tidak tau jawaban dari pertanyaan anakmu dan kamu gengsi anakmu mengetahuinya ?

apa yang salah dengan anakmu yang ekpresif dan bertingkah sedikit absurd untuk menunjukkan perasaannya sehingga kamu harus memukul dan mencubitnya seraya berteriak "SUDAH DUDUK DIEM AJA DISINI" hanya karena kamu tidak tau bagaimana cara mengatasinya dan kamu malu dengan kelakuan anakmu.

semua karena kamu, para ibu ibu pencetak anak bermental abuse sangat sombong dan TIDAK mau belajar. semua karena kamu BODOH untuk tidak mensyukuri nikmat yang tuhan berikan berupa anak.

juga kamu, para ayah. selalu membentak dan terus membentak ketika anakmu mencoba mencuri perhatian hanya karena kamu sedang lelah ?

kenapa kamu, marah dan memukul anakmu hanya karena kamu tidak bisa membelikan mainan yang dia minta yang harganya terlampau mahal untuk kantongmu ? apa susahnya menjelaskan bahwa saat ini kamu masih belum bisa membelikan, dan bimbing dia untuk berdoa semoga ayahnya segera diberi kelebihan rezeki untuk membelikan mainan yang dia mau ? kenapa ? kamu malu ? hai para ayah ?

kalau memang malu, kenapa dulu ketika kamu melobby ayah istrimu sedaya upaya kamu tidak malu bahwa ternyata mentalmu belum siap untuk menjadi seorang kepala keluarga yang baik ? kenapa ?

beberapa ibu muda (yang tidak siap menikah) bercerita pada saya bahwa pernikahannya dilakukan secara terpaksa dan lahirnya seorang anak semakin mempersulit keadaan sehingga tanpa sadar dia seringkali melampiaskan kekesalan kepada si anak yang dipandang "cuma bikin ribet".

ini menyedihkan, karena pernikahan yang diharapkan semua orang adalah pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah. (pernikahan yang memberikan kebahagiaan dan keberkahan bagi semua)

kalau ditilik tilik lagi, kunci pernikahan adalah ada pada perempuan. perempuan memberikan privillage untuk seorang laki laki untuk memimpin dia, mendidik dia, dan membimbing dia untuk melewati setiap step step pernikahan.

perempuan juga yang paling bertanggungjawab untuk pola pendidikan anaknya kelak.

ada beberapa perempuan (seperti saya) yang begitu independent dan mandiri dari segi karir maupun finansial. perempuan perempuan jenis ini kadang bikin para laki laki males.

sebenarnya, bukan para perempuan perempuan independent ini tidak mau atau tidak bisa dipimpin, mereka hanya perlu seseorang yang tau bagaimana berbicara (dan melobby) perempuan perempuan jenis ini.

jadi, untuk para perempuan. pastikan betul bahwa calon suamimu adalah orang yang tepat untuk memimpin kamu sampai maut memisahkan. dan pastikan bahwa kamu siap menjadi seorang ibu dari anak anakmu. kamu siap mendidik mereka dan takjub akan perkembangan mereka dari hari ke hari. pastikan kamu akan mendidik mereka dengan kasih sayang dan kelembutan, tanpa ada bentakan, teriakan, dan makian.

dan untuk para lelaki, pikir pikir dulu sebelum melobby ayah calon istrimu untuk menikahi dia. tanya calon istrimu, siapkah mentalnya untuk hidup bersama dan membentuk keluarga kecil, kalau belum siap. beri dia waktu sambil terus berdoa semoga tuhan memberi kalian kekuatan.

akhirnya, saya hanya berharap tidak ada lagi mental mental abuse yang lahir dari orang tua yang tidak siap menikah.





Surabaya, 21 Desember 2014




Rifa Akhsan

You May Also Like

6 comments

  1. Replies
    1. ituuu boleh dikoreksi lagi panggilan "bang" nya ? :)))

      Delete
  2. Trims tips persiapan mental sebelm menikahnya, hehe meski masih jauh dipikiran saya hal itu. :D

    ReplyDelete
  3. Hus.....saya nikah diusia muda lo....20 Th, dan Kami juga berpendidikan rendah serta dari keluarga miskin.....
    Kalau menurut saya sih tidak ada yang perlu dikhawatirkan apalagi takut menikah, justru dengan menikah hidup ini akan lebih sempurna. Bukankan menikah itu adalah separuh dari addien....?

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah"an tidak ada lagi anak anak bermental abuse :)) saya tidak menggenalisir. setiap hal pasti punya dua sisi mas :))

      Delete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.