Terima Kasih, Umi.

by - December 04, 2014



kemarin, saya dikabari oleh salah satu teman baik saya bahwa ibu dari salah satu teman kami meninggal.

saya reflek dan menyebut Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un.



namun dalam perjalanan pulang, saya bertanya pada diri saya sendiri.

"what if this happen to me"

bagaimana jika saya yang ditinggalkan oleh ibu saya ?

saya adalah seorang yang cengeng, bahkan tulisan ini saya buat sambil menangis.

saya adalah seorang Virgo yang lahir dari rahim seorang Sagitarius. berbeda planet, berbeda orbit. sehingga saya memiliki ketidakcocokan disana sini dengan ibu saya.

ibu saya, yang saya panggil umi adalah wanita luar biasa yang tidak bekerja, beliau memilih mendedikasikan dirinya untuk suami dan anak-anaknya.

ibu saya adalah sarjana agama islam dengan konsentrasi konseling keagamaan yang melanjutkan magisternya di bidang pendidikan dengan konsentrasi manajemen berbasis sekolah. dan kini, beliau sedang dalam proses menempuh studi doktoral dengan rencana disertasi mengenai konseling keluarga.

karena latar belakang pendidikan ibu saya yang begitu berbeda dan secara otomatis mempengaruhi pola pikir beliau. saya dan beliau seringkali berbeda pendapat. saya yang seorang calon insinyur teknik sipil selalu mengedepankan logika, begitu lurus, begitu kaku, begitu keras kepala.

sementara umi, ibu saya adalah seseorang yang memakai pendekatan kualitatif dalam pemikiran beliau. kami, saya dan ibu saya hampir selalu mengalami miskomunikasi. salah paham berujung gagal paham. maksud perkataan umi seringkali tidak saya pahami, begitu pula sebaliknya.

tapi semenjak, diri saya bertanya "what if my mother leaves me as happen as my friend" saya jadi berpikir dan tersadar, saya belum siap ditinggalkan oleh ibu saya, saya masih butuh dukungan dan pandangan beliau meskipun beliau tidak memahami secara teknis tentang apa yang terjadi. saya butuh kehadiran beliau di hari pernikahan saya, saya butuh beliau mencereweti saya selama masa kehamilan saya, saya butuh beliau untuk memberi masukan tentang bagaimana cara merawat bayi, saya butuh beliau untuk mendampingi abah saya kemanapun abah saya berkelana, saya butuh doa beliau, tidak ada satupun orang di dunia ini yang mendoakan saya seikhlas ibu saya, saya jamin tidak ada.

saya adalah seseorang yang begitu kritis, sehingga kekritisan itu membawa saya pada krisis kepercayaan. saya tidak bisa mempercayai siapapun kecuali Tuhan dan Rasul saya.

tapi sekarang saya sadar bahwa orangtua adalah pengecualian. pengecualian dalam bentuk pemakluman.

saya tidak boleh mengkritisi apapun yang dilakukan atau dikatakan oleh orang tua saya. pengorbanan mereka pada saya membuat mereka memiliki keistimewaan keistimewaan itu di hidup saya.

dimanapun seorang ibu pasti cerewet dan sok tau, karena sudah menjadi naluri wanita untuk mengatur segala sesuatu di bawah kewenangannya. termasuk ibu saya yang memang berwenang mengatur rumah tangga dan jalan sukses anak-anaknya sebagai eksekutor dari pemikiran abah saya.

terima kasih umi, untuk sabar menghadapi anakmu yang masih belajar bagaimana arti hidup sebenarnya.

terima kasih umi, untuk segala pemakluman atas segala sikap dan perkataan kakak.

terima kasih umi, untuk selalu setia mendoakan kesuksesan kakak.

terima kasih umi, untuk keikhlasan umi memaafkan semua kesalahan kakak.

terima kasih umi, untuk pengorbanan yang umi dedikasikan sehingga kakak bisa seperti sekarang.

terima kasih, untuk segala yang tak mampu terucap...

kepada kamu, yang sedang membaca tulisan ini, pesan saya cintai dan sayangi ibumu secara nyata, buktikan rasamu pada ibumu dengan meluangkan waktu bercengkrama bersama beliau, sebelum satu satunya caramu berkomunikasi dengan beliau hanya lewat doa.

semoga saya dan kamu bukan termasuk mereka yang terlambat,


semoga...




Surabaya, 4 Desember 2014




bayi perempuan yang lahir dari rahim seorang Rusmiati Indrayani

You May Also Like

9 comments

  1. Tulisan ini bikin nyesek.. nyadar kalo masih banyak dosa sama ibu :')

    ReplyDelete
  2. merinding juga baca tulisan kakak faizah ini huhuhu

    ReplyDelete
  3. Tdk bisa membayangkan rasanya ditinggal orangtua, Ibu misalnya... Pasti bgtu sesak, bisa juga mmbuat kita jd gk semanggat hidup. Ahh jngn sampai yaa...

    Ya bgaimanapun juga, ibu atau orangtua kita adalah yg nmr satu di dunia. (Setelah Allah) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. orang tua adalah malaikat penjag yang diturunkan Allah ke hidup kita

      Delete
  4. ibu saya meninggal di usia hampir 80 tahun, itu membuat saya tersedu cukup lama di dahi beliau yang dingin. Ibu saya kembali kepadaNya karena beliau menginginkan kembali kepada TuhanNya.

    ReplyDelete
  5. ibu saya meninggal di usia hampir 80 tahun, itu membuat saya tersedu cukup lama di dahi beliau yang dingin. Ibu saya kembali kepadaNya karena beliau menginginkan kembali kepada TuhanNya.

    ReplyDelete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.