Ibu Saya Bukan Dokter, Tapi Beliau Paling Tau Apa yang Terjadi Pada Saya

by - May 21, 2015



saya pernah menulis untuk ibu saya di sini dan di sini. beberapa hari yang lalu ibu saya mengunjungi saya ke Surabaya dan kemudian kemarin beliau balik ke Bontang. ibu saya menyampaikan banyak hal pada saya, saya memang tidak bercerita secara gamblang tapi naluri seorang ibu menuntun beliau mengatakan hal hal berikut :




1. kalau saja umi dulu menyerah memperjuangkan cinta sejati dengan abahmu. mungkin sekarang tidak ada kamu di hadapan umi dan umi akan patah hati dan tidak akan menikah sampai mati. perjuangan cinta sejati tidak pernah mudah. tapi yang pasti, selalu ada pertolongan tuhan bagi mereka yang tulus mencintai.

2. kadang umi sebagai orang tua harus menyamakan persepsi dengan anak. anak sudah menunjukkan bakti semampunya pada orang tua, namun terkadang kami orang tua yang selalu menuntut bakti anak sehingga sering terjadi konflik.

3. teruslah untuk menulis, karena kita hidup untuk menulis.

4. jangan sakit, dan jangan masuk rumah sakit karena kamu mau ujian

5.  jangan kalah sama tugas kuliah, tugas dirancang untuk bisa kamu kerjakan dengan baik.

saya yang mewarisi gengsi setebal balok es jelas aja cengar cengir dibilangin kayak gitu sama umi saya.

setelah umi saya balik ke Bontang, saya menangis tersedu sedu karena semua yang dikatakan oleh umi saya adalah solusi dari apa yang terjadi pada saya beberapa minggu terakhir. dan terang saja, satu hari sebelum postingan ini ditulis saya hampir masuk UGD karena sakit langganan karena stress yang mampir di tubuh saja. kalau saja umi saya tidak mewanti wanti saya untuk tidak sakit, mungkin saat ini saya sudah terbaring opname di rumah sakit langganan.

ada hal hal yang terjadi antara ibu dan anak yang sangat tidak masuk akal namun nyata adanya. ibu saya bukan dokter, bukan pula peramal. beliau adalah perempuan luar biasa yang mempertaruhkan setengah nyawanya demi lahirnya saya ke dunia. beliau pula orang yang paling tulus mendoakan kesuksesan saya.

seperti sabda Rasulullah yang menyebut ibu tiga kali kemudian ayah. ibu yang memiliki hak mutlak atas hidup saya dengan pelajaran tentang bertahan hidup yang ayah saya ajarkan.







Surabaya, 21 Mei 2015



Rifa Akhsan

You May Also Like

4 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.