Dih, Si Rifa Lulusan Pondok Pesantren Ternyata

by - June 03, 2015

jaman cupu tapi hitech dalam penjara suci


di tahun 2006, waktu itu saya dan Rusma duduk di bangku SD kelas enam. sudah tiga tahun kami baru benar benar menyadari bahwa abah memiliki posisi dalam dunia perpolitikan kota Bontang. waktu itu kami sadar bahwa guru guru kami tidak lagi melihat "kami ini siapa" tapi melihat "kami ini anaknya siapa". jujur saja untuk dua orang bocah SD itu menyesakkan.

rus #AyoMondok ucap saya asal ketika kami berdua pulang sekolah dan berjalan masuk kedalam rumah. sebagai pemimpin dalam organisasi anak kembar ini saya memang seringkali bertindak sebagai inisiator.




"mi, kakak kembar SMP nya di pondok aja ya"

 umi saya terdiam, pondok bagi keluarga kami adalah pondok pesantren yang memegang nilai teguh agama islam namun tetap kompatibel untuk menyiapkan santrinya menghadapi tantangan global. dengan suasana belajar yang kondusif dan independent.

itu artinya mondok di Pulau Jawa.

ajakan #AyoMondok yang terlontar dari mulut saya ini bukan ajakan biasa, ajakan yang membutuhkan eksekusi tepat yang didahului pemikiran dalam.

umi saya menyambut baik rencana mondok kami ini, sebagai seseorang yang menyelesaikan pendidikan strata satu di universitas islam negeri di Jogja, umi saya paham betul bagaimana output santri pondok pesantren.

aslinya saya dan Rusma mau di Gontor. tapi umi saya bilang Gontor putri itu di Ngawi, tiga jam dari Solo lima jam dari Jogja dan nggak tau berapa jam dari Surabaya. sementara penerbangan ke Solo itu jarang banget dari Balikpapan. *maklum jaman 2006*

kemudian umi saya ingat punya teman kuliah yang menjadi salah satu bu nyai (istri kyai) di pondok pesantren Darul Ulum  Jombang.

kemudian umi saya mengajukan penawaran untuk saya dan Rusma mondok di Jombang. "Darul Ulum itu cuma lima ratus meter dari jalan By Pass jalur tengah  Surabaya. Jombang juga cuma dua jam dari Surabaya. penerbangan ke Surabaya dari Balikpapan juga tiap jam ada" tawar umi saya.

kemudian umi saya bercerita tentang temannya yang menjadi bu Nyai ini. umi saya banyak bercerita tentang Umi Izzah (panggilan saya dan Rusma untuk teman umi ini) dari cerita umi, sepertinya hubungan mereka cukup dekat.

abah saya kaget dengan keinginan kami, terlebih dengan keluarga besar dari pihak abah. kami ini orang Banjar, suku asli kalimantan. menyekolahkan anak yang baru lulus SD nun jauh di seberang pulau baru kali ini terjadi.

oleh tante tante saya, kami diledek. dipikir becandaan. ketika saya tidak menanggapi, mereka terdiam, sepertinya mau sekolah di pondok pesantren ini memang serius.

sehari sebelum saya dan Rusma berangkat ke Jombang, samar samar saya mendengar abah saya bertanya ke umi saya "mi, serius mau sekolahin anak ke Jombang ?" yang dijawab oleh umi saya "sekali lagi sampean nanya gitu, saya nangis"

bukan hal mudah mengambil keputusan berangkat sekolah di umur yang sangat muda, saya dan Rusma menangis, orangtua saya juga menangis karena sebenarnya mereka nggak tega. saya juga nggak sanggup kalau sekolah masih di wilayah kalimantan, power abah terlalu kuat sementara umi dan abah saya nggak tega karena ini harus dilakukan, kami harus menerima pendidikan yang dimana kami dilihat sebagai diri kami sendiri tanpa embel embel apapun. juga untuk akhlak dan mindset agama sebagai pegangan hidup.

saya belum pernah ke luar pulau kalimantan sebelumnya, naik pesawat pun tidak pernah. saya dan Rusma tidak pernah mau ikut jika abah atau umi punya acara keluar pulau. perjalanan darat selama enam jam menuju Bandara Internasional di Balikpapan menjadi pemicu utama kemalasan kami.

Darul Ulum  memiliki 16 lembaga pendidikan yang terdiri dari 4 SMP (dengan 1 nya adalah SMP negeri unggulan), 2 SMK (yang salah satunya adalah SMK telekomunikasi dan informatika) 1 Universitas dan sisanya adalah SMA (yang salah satunya adalah Cambridge International School)

Darul Ulum  membebaskan santrinya untuk memilih  tinggal di 1 asrama dari 22 asrama yang tersedia. saya dan Rusma memilih tinggal di asrama putri nomor  10  Hurunn Inn. yang menjadi tempat tinggal kami selama enam tahun. menghabiskan masa SMP dan SMA.

kurikulum Darul Ulum berbeda beda setiap sekolah. namun mengacu pada motto "berotak London berhati Masjidil Haram". jadi saya tidak bisa jawab ketika ada yang bertanya apakah Darul Ulum Pondok Salaf atau Modern ? saya hanya bisa menjawab Darul Ulum adalah pondok pesantren yang mendidik santrinya untuk menggenggam dunia (London) dengan keteguhan beragama islam (Masjidil Haram)

saya sendiri kebetulan manghabiskan masa SMP di SMPN 3 Unggulan Peterongan Jombang yang berkurikulum nasional dan pondok pesantren dan menghabiskan masa SMA di SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT Cambridge International School.

banyak hal yang saya dapat dari mondok ini, di SMP saya belajar untuk memahami bahwa manusia itu sifatnya berbeda beda dan tidak cocok karakter adalah hal yang wajar. saya jadi mengerti arti dari bermasyarakat sesungguhnya.

pengalaman mengagumkan justru hadir di masa masa SMA saya, di Darul Ulum 2 bakat lobbying saya yang saya tidak tau kalau saya punya bakat tersebut muncul ketika saya menjadi anggota OSIS sewaktu SMA kelas XI dan didapuk menjadi sekretaris bidang politik dan lingkungan hidup. kemampuan lobbying ini menjadi semakin terasah ketika saya diamanahi menjadi anggota tim pencari dana untuk SSO XII sebuah event olimpade IPA IPS bagi SMP Sederajat yang diadakan oleh SMA Darul Ulum 2 setiap tahunnya. saya juga berkesempatan menjadi penjaga ruang ujian tulis peserta SSO. di ruangan itu saya melihat dan belajar bagaimana cara seorang anak olimpiade menjawab soal dan menganalisa. saya juga berkesempatan menjaga salah satu pos mata pelajaran Biologi yang waktu itu kebetulan pos kunci determinasi.

"Riffat, betapapun sibuk kegiatanmu. betapapun hancur perasaanmu. jangan pernah korbankan ilmu untuk menjadi alasan kegagalanmu"
nasihat Pak Imam Sugioto ini membentuk karakter saya menjadi tidak menyerah pada tekanan kurikulum Nasional, Pondok Pesantren, dan Kurikulum Cambridge yang diterapkan di SMA Darul Ulum 2. kini saya tau kurikulum tersebut membentuk pola belajar kontinu pada diri saya.

kurikulum nasional mengacu pada standardisasi pendidikan menurut kementerian pendidikan republik Indonesia, kurikulum pondok pesantren mengacu pada nilai nilai luhur keislaman yang tertuang dalam Al-Qur'an dan hadist serta kitab kitab kuning. sementara kurikulum Cambridge mengacu pada sertifikasi Cambridge International Examination. ujian sertifikasi wajib yang harus diambil oleh setiap siswa SMA Darul Ulum 2.

di Darul Ulum 2 juga saya berkenalan dengan dunia blog dan digital marketing sampai akhirnya menjadi blogger seperti sekarang.

di kelas XII saya sudah tidak lagi menjadi anggota OSIS dan panitia SSO XII namun bakat lobbying yang terasah itu mempertemukan saya dengan beberapa orang orang petinggi pendidikan yang saya tidak sangka saya akan bertemu.

salah satunya saya bertemu dengan salah satu konsultan pendidikan Australia yang akhirnya membawa saya diterima di jurusan Medical Science Universitas New South Wales Sydney, Australia.

kenapa saya tidak jadi berangkat ke UNSW sudah saya ceritakan di sini

kehidupan asrama yang lekat dengan wirid, pujian, ngaji kitab dan lantunan Ayat Suci Al-Qur'an sukses menjelaskan kepada saya bahwa tuhan itu maha berkuasa atas segala sesuatu.

kini saya berkuliah di Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya. sebuah institut teknologi swasta yang cukup punya nama di Indonesia Timur. yang mengantarkan saya menjadi Juara 1 Tender Cup 2014. sebuah kompetisi pelelangan harga penawaran sebuah bangunan sipil dengan mempertimbangkan ketepatan perhitungan volume bangunan, ketepatan mutu bangunan, serta metode pelaksanaan konstruksi.

di ITATS nasihat pak Imam kembali teringat.

"Riffat, jangan pernah marah dengan takdir tuhan"

ya saya memutuskan  untuk berkuliah di teknik sipil adalah karena salah satu perusahaan milik keluarga saya, PT Borneo Sentra Teknik Consultant kekurangan tenaga ahli untuk beberapa proyek struktur.

kini saya juga tercatat sebagi karyawan di PT Borneo Sentra Teknik Consultant sebagai staff divisi drawing yang bertanggung jawab untuk penyelesaian dan ketepatan gambar teknik konstruksi.

Darul Ulum dengan sentuhan paripurna di SMA Darul Ulum 2 sukses membuktikan pada dunia seorang yang berlatar belakang pesantren mampu bersaing dalam persaingan skala nasional dengan elegan dan anggun. juga berhasil mengantarkan salah satu santrinya diterima di Universitas yang diperhitungkan dalam dunia pendidikan internasional.

jadi, #AyoMondok  :*





Surabaya, 3 Juni 2015





Faizah Riffat Ma'rifah. santri yang bangga pada Pondok Pesantren Darul Ulum
    

NB : tulisan ini ditulis untuk mendukung gerakan #AyoMondok yang dilaunching PBNU pada tanggal 1 Juni 2015

You May Also Like

2 comments

  1. Keren Tulisanya :)
    Salam kenal, Mbak.
    Saya juga bangga menjadi alumni PPDU Jombang.
    Cheer,

    ReplyDelete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.