Kayu Tangi Art, Ketika Limbah Menjadi Bernilai Ditangan Sang Brilian

by - July 26, 2015


kalau menurut orang teknik sipil, dalam unsur konstruksi kayu, haram hukumnya kondisi kayu cacat. cacat salah satunya disebabkan oleh adanya unsur mahkluk hidup dari kayu tersebut.

lain teknik sipil, lain produk desain. jurusan yang mempelajari bagaimana membuat furniture dan produk produk desain cetar membahana di masa kini dan masa depan ini justru melihat kayu kayu dengan sentuhan makhluk hidup menjadi sebuah karya seni dengan value tinggi dan berkelas.

Kayu Tangi Art contohnya, galeri seni yang memproduksi semua produknya secara mandiri ini memandang bahwa kayu yang memiliki sentuhan mahkluk hidup bisa diolah menjadi sesuatu yang berbeda karena "jejak" makhluk hidup ini meninggalkan sebuah pola unik yang "menjual"

Kayu Tangi adalah nama daerah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. desa kayu tangi ini lebih dikenal sebagai kampungnya para mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, kampus abah saya kuliah teknik sipil jaman purbakala dulu.. daerah ini dinamakan Kayu tangi karena banyaknya rumah dengan konstruksi kayu dibangun dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kayu Tangi dalam bahasa jawa berarti kayu yang bangun, tangi berarti bangun.

saya rasa dua arti "Kayu Tangi" dalam dua bahasa yang berbeda ini seakan menjadi doa untuk kesuksesan galeri seni ini.

daerah Banjar, Kalimantan Selatan memiliki kontur rata dengan sungai berkelok dimana mana, masyarakat suku Banjar pun hidup di sepanjang aliran sungai ini, maka tidak heran bila kamu berkesempatan jalan jalan ke kampung nini saya Banjar mudah sekali menemukan "batang" dan jembatan gantung kayu yang membentang diatas sungai.

kontruksi rumah masyarakat suku Banjar selalu menggunakan konstruksi kayu, utamanya kayu ulin karena kokoh dan kekuatannya yang mengalahkan besi. namun mereka juga menggunakan kayu kayu lain seperti meranti, bengkirai, dll untuk beberapa item pekerjaan "arsitektur" dalam rumah mereka.

kembali tentang cerita saya mengenai konstruksi kayu, di kalimantan dan beberapa daerah rawa lainnya di Indonesia, ada yang dinamakan kayu limbah. kayu limbah artinya adalah kayu yang tidak memenuhi persyaratan untuk dijadikan material konstruksi. kayu kayu ini kemudian "dibuang" ke sungai dan terendam dalam air untuk waktu yang lama.


sungai adalah habitat bagi banyak mahkluk hidup, begitupun dengan sungai sungai di daerah tempat dimana saya dilahirkan ini. disana banyak mahkluk hidup yang hidup secara berdampingan, mulai dari pohon Klua yang selalu menjulurkan dahannya ke sungai sampai udang sungai yang hidup dalam lumpur dasar sungai.

diantara para mahkluk hidup tersebut ada spesies cacing yang hobby nya makan kayu kayu limbah ini, kami orang banjar menyebutnya sebagai cacing kapang. entah apa sebutan versi bahasa Indonesia yang sudah disempurnakan.

kayu ini memakan kayu limbah mulai dari bagian luar terus masuk sampai ke dalam, setelah kenyang dia akan keluar melalui lubang "jalan" yang sudah dia bangun. ketika dia ingin makan lagi, dia akan membuat lubang baru, begitu seterusnya. cacing kapang cara makannya nggak serakah macam rayap yang bisa membuat kayu yang begitu kokoh menjadi butiran debu karena hobby makannya. cacing kapang hobby makannya membumi dan beretika. sehingga kalau dilihat kayu kayu limbah santapan cacing kapang ini, kayunya tetap utuh tapi ada lubangnya dimana mana.


lubang lubang warisan cacing kapang inilah yang membuat seorang brilian seperti founder Kayu Tangi Art ini takjub dan melihat sebuah mahakarya baru dalam perspektif seni ala orang orang desain produk. bukan ala manusia teknik sipil yang langsung tanpa ragu membuangnya begitu melihat satu saja lubang.

perlu ketekunan dan metode pelaksanaan yang tepat dan efektif untuk "men-tangi-kan" si kayu kayu yang sudah disia siakan oleh bocah bocah teknik sipil ini. mulai dari proses pengangkatan dari sungai, kemudian dipotong, dibersihkan, dikeringkan, sampai akhirnya dipoles dengan bantuan teknologi tinggi menjadi sebuah produk desain baru yang berkelas dan bercita rasa seni tinggi.

kayu kayunya pun bukan kayu kemarin sore yang dibuang oleh warga teknik sipil, tapi kayu yang sudah merupakan kayu lama, artinya kayu ini sudah terendam dalam air sungai dalam waktu yang cukup lama. ini penting untuk mendapatkan motif ukiran indah dari cacing kapang secara sempurna.


sekedar informasi, cacing kapang ini tidak berbisa, tidak menggigit manusia, dan tidak berbahaya. sehingga dalam proses "men-tangi-kan" kayu ini para pekerja dijamin keamanannya dalam mengolah bahan ini untuk siap dipoles.

bahan baku kayu yang didapat secara gratis dan tidak menyalahi aturan ini diolah menjadi berbagai produk desain artistik berbagai ukuran dan harga, tentu dibutuhkan skill carpenter yang sangat tinggi, utamanya untuk jenis produk dengan daya ukir yang sulit dan rumit.

saat ini Kayu Tangi Art masih belum memiliki kompetitor untuk produk berbahan baku kayu limbah yang juga disia siakan oleh cacing kapang kalau dia sudah bosan dan mendapat kayu yang baru. karena langkah pionirnya ini Kayu Tangi Art masuk dalam jajaran pemain besar bidang industri kreatif tingkat nasional dan sering melakukan kerjasama dengan kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif (entah kalau sekarang kemenparekraf ini dimerger dengan kementerian mana).


ketika saya dihadiahi oleh sang founder berupa agenda kerja dengan sampul dan jilidan dari kayu serta benang yang seperti serat akar (saking kerennya sampe nggak berani saya pake agendanya) satu kalimat yang muncul di benak saya, produk ini menggunakan teknologi modern, tapi tidak sedikitpun memudarkan pesona keaslian kayu ini.


bahan baku kayu ini hanya bisa anda temukan di sungai pada daerah rawa di Kalimantan, Sumatera, Maluku, dan Papua. cukup menjelaskan bahwa Indonesia tidak cukup hanya bisa berbangga diri dengan ukiran kayu Jepara.

kini kayu tangi art juga memberdayakan masyarakat dalam ekspansi bisnisnya membuat handmade handicraft seperti craft dari batu batuan dan kain flanel.


Kayu Tangi Art adalah contoh nyata bahwa selalu ada peluang bagi industri kreatif Indonesia untuk maju dan berkembang. yang dibutuhkan hanya : kecerdasan, ketelatenan, dan jati diri.


galeri seni Kayu Tangi Art beralamat di Mall Kota Kasablanka Unit D10 lantai LG samping supermarket asal Perancis yang kini sah menjadi milik bapak Chairul Tanjung.

untuk workshopnya, mereka bertempat di Jalan Dr Saharjo No 62 A Jakarta Selatan.



Bontang, 26 Juli 2015





Rifa Akhsan
















You May Also Like

4 comments

  1. liat gambar yg pertama, saya malah geli ngebayangin cacingnya :D tp yg lainnya bagus2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya aja nggak pernah liat cacingnya bentuknya kaya apa...

      Delete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.