Lebaran Ala Keluarga Akhsan

by - July 22, 2015



lebaran baru saja berakhir, ini ditandai dengan masih magernya saya untuk ngantor. cerita lebaran masih tersisa dengan pertanyaan "kapan kawin" masih menjadi juara nyebelinnya.

Saya Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan juga merayakan hari raya idulfitri bersama keluarga saya, keluarga Akhsan. kami merayakan lebaran di Kota Bontang, kota rumah kami tercinta. tahun ini saya nggak mudik karena kai dan nini saya dari kedua orangtua sudah tiada dan kami merasa Bontang adalah kampung kami jadi sudah tidak ada cerita mudik semenjak kai dan nini meninggal.



                                     

Bontang adalah kota multikultural dengan tidak ada suku asli di sini, penduduk Bontang berasal dari suku dari seluruh Indonesia yang sama seperti keluarga saya : sudah merasa, menganggap dan menjiwai bahwa Bontang adalah kampung kami.

ada kebiasaan tahunan unik yang mewarnai lebaran kami di kota ini, yang mungkin saja tidak ada di kota lain. apa saja itu ?

keluarga Akhsan sungkem nya sebelum berangkat shalat ied. karena setelah shalat ied kami harus ke Majelis dan setelah pulang ke rumah, rumah kami langsung kebanjiran tamu. sayangnya setiap tahun di Bontang saya selalu menemukan khatib shalat idulfitri seringkali salah menyebutkan "jamaah shalat idulfitri" dengan "jamaah sidang jum'at" -____-

setelah shalat ied kami langsung ke rumah paman guru. paman guru (begitu saya menyebutnya) adalah seorang wali Allah yang masih memiliki hubungan darah dengan saya dan sudah menjadi guru spiritual keluarga Akhsan dari saya masih kecil. paman guru adalah pemimpin Majelis Ta'lim Al - Munawaroh (yang kemudian saya sebut The Munawaroh's) yang menjadi tempat kami bernaung secara spiritual keagamaan. The Munawaroh's memberikan keluarga baru bagi saya karena hangat dan rekatnya para anggota Majelis ini.



identitas suku menjadi ciri khas kuliner lebaran. karena keluarga saya berasal dari suku banjar, maka setiap tahun kami wajib masak soto banjar dan lapat. Soto Banjar dan lapat adalah makanan khas suku banjar. tetangga tetangga di kompleks rumah saya sudah memiliki pakem kalau mau makan soto banjar ya ke rumah saya. begitu juga yang lain, kalau saya mau makan coto makassar saya akan ke rumah si anu, kalau saya mau makan soto bandung saya ke rumah si itu, kalau saya mau makan gudeg saya ke rumah itu, dan sebagainya. di Bontang keberagaman etnis sangat terasa, itu juga yang menjadikan identitas harus masak apa untuk lebaran setiap tahun.



keluarga kami ada keluarga yang dikunjungi, bukan keluarga yang mengunjungi. di sini team silaturahim terbagi menjadi dua, team mengunjungi dan team dikunjungi. team mengunjungi biasanya terdiri dari orang orang baru di komplek kami atau keluarga muda. sementara team yang dikunjungi adalah orang orang lama di komplek saya, dan keluarga yang anaknya tumbuh besar di komplek saya dan sekarang udah pada kuliah atau kerja. team yang dikunjungi (termasuk keluarga saya) menerima tamu setelah shalat ied sampai sekitar jam 10 malam. yang namanya tamu itu datang tiada henti, silih berganti masuk ke rumah. itulah kenapa team yang dikunjungi tidak bisa "muter" komplek menjadi team yang mengunjungi.


wisata kuliner secara gratis. "Rifa, main gih ke rumah tante, tante masak bakso" adalah ucapan ajakan dari tetangga saya yang tidak menjadikan makanan daerahnya sebagai menu lebaran setiap tahun. tetangga jenis ini biasanya tiap tahun menu lebarannya beda, nggak bisa ditebak gitu. kalau sudah mendengar ajakan semacam ini saya dan Rusma kerja keras untuk keluar dari rumah disaat tamu lagi agak longgar dan cus kami makan disana. kadang saya dan Rusma ditelpon oleh tetangga jenis ini dan kami menjawab akan ke rumahnya pada saat jam makan siang atau jam makan malam.

angpao dan para pemburu angpao. ya, kebiasaan masyarakat Bontang untuk kelas ekonomi tertentu memang menyiapkan budget yang cukup fantastis untuk membagikan ribuan angpao dengan nominal yang lumayan pada anak anak kecil komplek kami (biasanya yang datang ke rumah saya keluarga muda dengan anak anak mereka yang kecil kecil) adek adek kecil inilah yang berhak menerima angpao dari kami. ya kadang The Borneo's (anak kantor saya) juga iseng iseng kalau datang ke rumah ikutan minta angpao dan kalau saya juga sama isengnya saya kasih mereka angpao dengan packaging yang sama seperti angpao untuk adek adek kecil.



yang menyedihkan adalah karena perumahan saya dipandang perumahan elite di Bontang, dan seluruh tetangga saya juga menyiapkan angpao maka banyak sekali anak anak kecil nggak jelas rumahnya dimana di drop untuk keliling di perumahan kami. sebenarnya sangat gampang membedakan mana anak luar mana anak perumahan saya dari tampilan dan tingkah lakunya, namun fenomena para pemburu angpao ini meresahkan masyakarat perumahan saya, karena mereka sangat tidak sopan dengan nyelonong masuk ke rumah kami padahal kami lagi banyak tamu, kenal juga enggak. mau diajak ngomong juga bahas apa, kalau nggak dibahas takutnya nggak enak sama tamu yang lain kok kayak kayak kita ini nggak ramah.

mereka juga seringkali masuk ke rumah sambil berteriak. ASSALAMUALAIKUM, SILATURAHMI lalu langsung duduk dan mengambil makanan tanpa dipersilahkan, banyak dari mereka yang membawa tas untuk memasukkan jajanan premium khas lebaran, setelah duduk duduk mereka mulai menunggu untuk diberi angpao. kalau sudah dikasih mereka akan langsung lari keluar rumah dan amplop angpao nya dibuang di halaman atau DI DEPAN MATA SAYA -____- trus di depan rumah mereka akan teriak ke rombongan pemburu angpao lain kalau di rumah ini (rumah saya) mereka dapat uang sekian. trus rombongan sana nyahut, kalau di rumah itu (nunjuk rumah tetangga saya) ungnya sekian. kalau mereka udah duduk di rumah sama dan didiemin sama orang rumah dan nggak ada tanda tanda bakal dikasih angpao (karena saya suka moody ngasih angpao ke anak anak nggak jelas ini) mereka akan saling kode ke teman teman nya dan langsung nyelonong keluar rumah, di jalan depan rumah mereka akan misuh misuh dan teriak teriak ke komplotan lain kalau di rumah yang ini (rumah saya) mereka nggak dapat uang. di akhir hari mereka dijemput oleh mobil yang sama yang mengantar mereka pagi itu untuk diantar pulang ke rumahnya masih masing. saya nggak yakin kalau si supir mobil ini nggak dapat komisi dari penghasilan anak anak kecil ini muterin komplek saya.

silaturahmi yang mendekatkan sekaligus merekatkan. anak kantor saya dan kantor kantor dibawah naungan Borneo Group wajib hukumnya ke rumah saya pas lebaran. namun tetangga tetangga saya yang anaknya sama seperti saya (menghabiskan waktunya dalam setahun lebih banyak di kota lain daripada di Bontang) momen lebaran menjadi ajang temu kangen sama tetangga tetangga jenis ini yang kadang setahun aja belum tentu sekali ketemu. banyak bercerita tentang kabar, kegiatan sehari hari membuat suasana lebaran di Bontang menjadi semarak.



jadi apa saja kebiasaan lebaran di keluarga kamu ? share yah di komentar :)





Bontang, 22 Juli 2015





Rifa Akhsan, anak pertama keluarga Akhsan

You May Also Like

1 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.