Jangan Main Main Kuliah di Teknik Sipil

by - August 11, 2015


"kita tuh susah susah kuliah teknik sipil kayak gini, ilmunya nggak dipake juga diproyek.."

adalah kalimat yang keluar dari mayoritas lulusan SMK Pembangunan yang pernah memiliki (sedikit) pengalaman di proyek konstruksi dan kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah di jurusan teknik sipil.

mendengar kalimat seperti itu, mendadak saya terpikir untuk memukul kepala si pembicara dengan alat pancang biar otaknya agak bener sedikit jadi kalau ngomong hati hati.



saya tidak mengeneralisasi bahwa semua lulusan SMK Pembangunan seperti itu, tapi banyak dari mereka yang saya temui berlagak songong sok paling ngerti sipil seperti itu.


yang lebih saya sedih lagi, karena mindset "di proyek juga nggak bakalan dipake" ini jadinya banyak mereka mereka yang tidak serius dalam mata kuliah vital bahkan ada beberapa yang bermindset "yang penting lulus" sehingga mengandalkan kecurangan demi mendapat predikat lulus mata kuliah.


ketika saya tanya "kalau kamu udah ngerasa wow banget di proyek trus kenapa kuliah ?" jawaban mereka "cari ijazah, karena kalau lulusan SMK nggak mungkin bisa jadi Site Engineer apalagi Project Manager"

astaghfirullah...

sebenarnya kalau kita cermati, SE dan PM kenapa harus (minimal) sarjana teknik sipil ? ya karena mereka punya ilmu yang kapabel untuk menempati jabatan tersebut, bukan hanya tentang pengalaman.


mungkin para dedek dedek lulusan SMK ini merasa tinggi karena (mungkin) ada yang menjabat sebagai pelaksana di proyek gedung. at least berlantai 2 atau 3. memang lulusan SMK masih boleh menjabat sebagai pelaksana jika proyeknya masih level proyek gedung kurang dari sama dengan 3 lantai. tapi untuk pelaksana proyek jalan dan jembatan, gedung diatas 5 lantai, bangunan IPAL, bangunan WTP,  bendungan, waduk, pelaksananya mutlak harus berijazah sarjana teknik sipil.



pelaksana saja kualifikasinya seperti itu, apalagi site engineer, project manager, bahkan tenaga ahli ? setahu saya, untuk menjabat posisi tenaga ahli dalam proyek pengaspalan jalan raya kualifikasi yang diminta harus S2 teknik sipil dengan konsentrasi jaringan jalan dan transportasi. untuk bangunan instalasi pengolahan air limbah dan water treatment plant kita butuh tenaga ahli bangunan air. artinya proyek teknik sipil butuh mereka yang mumpuni secara ilmu, pengalamannya cukup, dan cakap di lapangan. pasti kuliah teknik sipilnya nggak main main a.k.a asal lulus mata kuliah saja.


orang orang proyek yang belum berijazah sarjana namun sudah cukup punya jam terbang itu rata rata gitu sih, menganggap kuliah teknik sipil itu nggak penting. padahal semakin kesini sertifikasi untuk menempati posisi posisi kunci di proyek semakin ribet tahapannya.


proyek konstruksi butuh sarjana yang cakap, bukan sarjana kertas. apa itu sarjana kertas ? sarjana yang luar biasa sok, dikasih kerjaan kecil nggak mau tapi dikasih kerjaan besar nggak bisa. biasanya lulus dengan IPK menjulang namun ketika masuk di aplikasi tidak bisa menerjemahkan apa yang sudah dia pelajari di kampus. namun sangat hebat berbicara teori ini itu.

di proyek ada sarjana kayak begitu ? banyak.


jadi kamu kamu yang merasa kuliah teknik sipil untuk dapat ijazah, sebaiknya perbaiki mindset kamu, karena sampai kapanpun kamu nggak akan pernah naik jabatan atau menempati posisi kunci di proyek.

saya nggak mau sok bersih, saya sangat menyesal ngantuk di mata kuliah struktur jembatan ketika saya ditakdirkan tuhan pegang 2 proyek jembatan sekaligus. yang satu proyek jembatan dengan struktur kaki nya berupa abdubtment, yang satunya proyek jembatan beton dengan struktur box culvert yang pembesian dan pengecoran dilakukan di tempat. sehingga setelah pemancangan kita harus ngecor lantai kerja duluan.


tapi saya sangat bersyukur karena sungguh sungguh memperhatikan mata kuliah mekanika tanah, jadi waktu itu ada titik pancang yang pancangnya langsung melorot tanpa perlawanan begitu dipukul sekali. SE nya yang baru fresh graduate dan pertama kali dapat proyek jembatan dengan kondisi tanah seperti di proyek saya, tanya ke saya dan mengemukakan teorinya, setelah kita melihat data soundir disimpulkan kalau kejadian pancang melorot itu wajar karena di titik tersebut tanahnya memang lumpur. walaupun pada akhirnya memang harus digali untuk mengelas sambungan pancang.


SE saya ini IPK nya nggak tinggi tinggi banget, tapi saya bangga dengan dia yang bisa membaca data soundir yang hanya berupa grafik grafik dan angka dengan tepat. saya yakin sarjana kertas pasti bingung baca data soundir.

percuma punya ijazah dengan IPK tinggi kalau ternyata di lapangan kalian bengong nggak ngerti perintah, mau tanya gengsi tapi nggak tanya juga nggak bisa...


jadi, teman teman teknik sipil. tahan tahan lah sifat pesimis nan sok tau kalian. kita nggak pernah tau kan nasib akan membawa kita kemana, jangan sampai kalian harus menjilat ludah sendiri karena kesoktahuan kalian.

karena menuntut ilmu tidak pernah salah (selama ilmu yang diridhoi)

pada akhirnya, di akhir dari pencarian ilmu. tuhan menghadiahkan sesuatu yang membahagiakan, dengan cara yang berkah


tahan tahanlah nafsu sok tahu kalian, nanti kalau kalian tau ternyata kalian bukan apa apa di jagat konstruksi ini kan malu berat...

sipil itu luas, resikonya tinggi, uangnya juga banyak.. namun kita butuh ilmu untuk meraihnya, atau kita selamanya hanya akan menjadi katak dalam tempurung..

salam hangat dari debu proyek




Bontang, 11 Agustus 2015





Rifa Akhsan

You May Also Like

12 comments

  1. Baca ini cuma bisa hehehehe, ya, gak cuma teknik sipil aja kok, jurusan lain juga banyak yang gitu, cari ijazah doang, ya, kasian sih sebenernya, hidupnya jadi nggak menantang blas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. jurusan lain gitu juga ya ? hahaha emang ada orang orang yang hidupnya emang (maunya) linier aja :)) nggak salah sih tiap orang kan beda beda

      Delete
  2. Saya gak tahu apa2 tentang proyek :) menarik membacanya... mungkin mereka kemakan omongan rekan sebayanya, atau dibohongi seniornya—entah, mungkin takut kesaingan? ^_^

    wah... blognya punya tulisan dengan ukuran font yg lumayan. hehe... semoga bukan karena 'ngamuk'-nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa jadi bisa jadi sindrom kompetisi kerja juga berpengaruh :))

      btw ini font sengaja dibikin "lumayan" soalnya topiknya sering sering agak berat. jadi biar nggak jenuh aja. bukan ngamuk ko hehe

      Delete
  3. Wah bukan main mbak... mbak buka sosok cewe yang biasa ini. Padahal banyak cew diluarsana yg glamour dan bisanya cuma bermanja-manja... luar biassa!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe saya juga luar biasa manja kok kalau sama orangtua dan pasangan saya :3 kerja di proyek keras bos :)

      Delete
  4. iya banget mbak yaa.. penentuan kualifikasi suatu posisi pasti bukan tanpa alasan :)
    btw, mbaknya kece ih kerja proyek gitu ^_^ kuat debu banget pastinya yaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, setiap posisi butuh kualifikasi yang beda beda.

      haha debu proyeknya dikuat kuatin :3

      Delete
  5. rumit banget ya pengaplikasian di lapangan yang sebenrnya

    ReplyDelete
  6. Saya suka dengan gaya tulisan anda... terkesan simpel namun berisi.... hehehe... memang seringkali kegiatan dilapangan berbeda dengan yang ada dibangku kuliah... harus cermat dan penuh improfisasi...

    ReplyDelete
  7. Saya suka dengan gaya tulisan anda... terkesan simpel namun berisi.... hehehe... memang seringkali kegiatan dilapangan berbeda dengan yang ada dibangku kuliah... harus cermat dan penuh improfisasi...

    ReplyDelete
  8. Kak, kalau untuk d1 lebih baik teknik sipil atau desain interior ya? kalau hanya jenjang d1, kemungkinan perkembangan karier nya lebih baik yang mana? Saya skrg sbrnnya sudah kuliah s1 ekonomi, tapi merasa salah jurusan dan ingin masuk bidang bangunan. Tapi berhubung ga dikasih pindah jurusan, saya mau ambil d1.thx kak

    ReplyDelete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.