Catatan Perjalanan Riffat : Hat Yai

by - September 26, 2015

Riffat The Explorer

mungkin bisa dikatakan takdir, tidak pernah terbayang oleh saya bisa menjejakkan kaki di kota paling selatan negeri dengan huruf mirip honocoroko ini. Thailand terlebih Hat Yai tidak pernah masuk ke dalam wish list maupun keinginan iseng saya. sebagai seseorang yang memiliki pengalaman traveling "biasa aja" saya tidak begitu memahami apa yang mau saya lakukan di kota ini. terserah kaki melangkah sajalah.



Hat Yai adalah kota kumuh yang membuat saya cumpet bahkan setelah baru saja keluar dari gerbang imigrasinya. di imigrasi, petugas perempuan berjilbab dengan tubuh gempal berhadapan saya di loket demi cap masuk negara ini. si petugas bertanya saya mau kemana yang saya jawab "just Hat Yai" dan si petugas imigrasi dengan bahasa Thailand mengobrol dengan rekan laki lakinya, sorang bapak bapak paruh baya sembari menstempel visa pada paspor saya. saya nggak tau apa yang mereka bicarakan dan memilih tidak peduli. yang saya kaget ketika saya ngecek paspor ternyata saya dikasih izin tinggal di Thailand selama dua bulan. YAKALI SAYA MAU CARI KERJA.


dari segi masyarakat, kota yang masih mayoritas muslim ini menurut saya biasa saja. tidak kasar namun tidak juga ramah, tapi satu hal yang saya sebal adalah ketika belanja sesuatu di toko milik masyarakat lokal, karena mereka yang tidak bisa bahasa Inggris sementara saya yang cuma bisa ngomong inggris (ya masa saya ngomong bahasa Indonesia). 


jadi ceritanya saya lagi mau beli tas, di sebuah toko penuh tas yang gabung sama rumah satu keluarga besar. saya menjelaskan pelan pelan tentang tas yang saya mau dengan bahasa Inggris, si penjual saling bersahut sahutan mencoba memahami penjelasan saya. sayangnya tidak satupun dari keluarga itu yang memahami pesanan saya sehingga si penjual tidak bisa memberikan pilihan tas sesuai penjelasan saya. saya yang bingung lalu pamitan untuk keluar toko. keluarga penjual ini saling salah salahan satu sama lain, dan kemudian endingnya mereka memaki maki saya.

sesungguhnya bahasa memang penentu kelas yang sebenarnya

wisata yang saya datangi selain chinatown dimana hotel saya berada hanya sleeping budha saja. satu hal yang dimiliki Thailand adalah ornamen pada atapnya yang khas, itu saja yang membuat saya exiting dengan konstruksi negara ini. di Hat Yai saya tidak melihat gedung tinggi maupun infrastruktur yang mengusik cinta saya pada ilmu konstruksi, oh selain tata kelola lalu lintas yang harus diperbaiki karena banyaknya sepeda motor yang melawan arus dan angkutan umum sejenis bajaj diperbesar yang suka ngetem sembarangan.

foto sama abah, umi yang moto in

daerah wisata sleeping budha pun bagi seorang muslim seperti saya sebenarnya dirasa kurang nyaman dengan kotoran anjing dimana mana dan anjing yang berkeliaran.

makanan, cukup sulit mencari makanan halal disini meskipun banyak restoran berlabel halal. sulitnya karena makanan halal yang disajikan cenderung tidak menampilkan ciri khas kuliner thailand. Hat Yai terkenal dengan dim sum nya, harapan saya paling tidak rumah makan halal yang rata rata dimiliki oleh keluarga muslim asal timur tengah dan malaysia itu menyediakan berbagai macam dim sum halal yang bisa saya pilih untuk makan, atau makanan timur tengah sekalian. tapi yang saya alami soal kuliner disana serba tanggung, ya kurang lebih kayak sup sup an yang saya nggak ngerti karena rasanya hambar.


di Hat Yai juga ada model makanan kaki lima kayak penyetan di Surabaya, tapi melihat dagingnya yang berbumbu merah dan langsung digoreng di minyak panas bikin saya langsung kenyang dan ragu, "ini halal nggak ya" saya pengen banget makan udang udang besarnya, tapi pas saya beli mereka jual tanpa nasi. sedih. oh iya Hat Yai surganya sea food segar dan makanan makanan yang saya nggak ngerti, itu reptil atau apa. yang jelas saya nggak lihat makanan makanan itu di Surabaya.


yang paling bikin saya sedih tentang sea food adalah di Hat Yai sirip hiu yang dilindungi itu menjadi primadona kuliner, dimana mana banyak saya lihat dus dus dengan es berisi sirip sirip hiu berbagai ukuran siap untuk diproses menjadi caviar, yang harganya tidak sebanding dengan potensi kepunahan hiu. 

ada pula penjualan tas dari kulit ikan pari yang dianggap khas daerah ini, umi saya ribut mau beli yang entah kenapa abah saya tidak membolehkan. belakangan saya tau bahwa hanya sebagian dari kulit ikan pari yang bisa dijadikan tas. jelas demi sebagian kecil bahan tas tersebut ada binatang pari yang berjuang meregang nyawa dan potensi kerusakan lingkungan laut.



gajah juga di Hat Yai disirkuskan layaknya topeng monyet di Indonesia. bukan saya bilang monyet tidak akan punah atau saya mendukung kegiatan topeng monyet, namun saya sedih binatang besar seperti gajah digeret sepanjang jalan kota demi sesuap nasi pawangnya. kota bukan habitat gajah, namun karena tuntutan ekonomi gajah terpaksa pindah habitat dari hutan tropis ke hutan beton.

namun terlepas dari itu saya sangat bersyukur dibelikan umi saya leci di Hat Yai, disana pertama kali saya makan buah leci asli, bukan buah leci yang sudah diekstrak menjadi sirup.

saya tidak pernah ke daerah lain di Thailand, saya juga paham tidak adil melihat Thailand hanya dari sisi Hat Yai. terlepas dari itu, saya bersyukur pada tuhan masih diberi wawasan baru tentang negara lain, juga keamanan.

saya ke Thailand pada waktu kurang tepat, ketika itu seorang wanita cantik kembang konferensi para kepala pemerintahan ASEAN, Yingluck Shinawatra ditahan karena alasan politis. di perbatasan kami dihadang oleh anggota militer, memeriksa semua paspor dan mengecek barang bawaan. saya lupa waktu itu apakah mereka yang berbaju merah atau kuning yang berpotensi menjadi korban anarkisme akibat situasi dalam negeri Thailand yang sedang tidak stabil.

Thailand juga terkenal akan populasi waria nya yang (memang) lebih cantik dibandingkan perempuan asli. di Hat Yai pun kita bisa melihat cabaret show. namun saya memilih untuk tidak menonton pertunjukan ribuan bath tersebut dan lebih memilih untuk berjalan kaki menyusuri kota. memang sulit membedakan mana waria dengan perempuan asli karena mereka yang sudah membaur dengan kehidupan masyarakat Thailand, saya juga beberapa kali berpapasan dengan shemale shemale canti ini, tidak sulit membedakan antara perempuan asli dengan shemale. seperti yang dijelaskan dalam kitab kitab kuning fiqh yang ditulis oleh para ulama jaman dulu. cukup lihat telapak tangan dan punggung tangan perempuan atau yang disangka perempuan. maka langsung bisa diketahui perempuan tersebut shemale atau perempuan asli. 

Thailand setidaknya memberikan pengalaman baru bagi seorang yang jarang keluar negeri seperti saya. tetap ada bongkahan memori tentang Hat Yai dalam warna cerita hidup saya.menyusuri jalan jalan kotanya ( Alhamdulillah aman ketika saya yang waktu itu masih berjalan jalan padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam)

saya memang tidak berencana untuk ke Thailand dalam waktu dekat, namun takdir tuhan yang membawa saya ke Hat Yai cukup memberi pelajaran pada saya bahwa tidak perlulah berlebihan hanya karena bisa melakukan perjalanan keluar negeri sampai sampai mengkritik Indonesia dengan penuh kebencian layaknya manusia yang tercabut akar budayanya. 

semua negara itu sama, mereka memiliki persoalan dalam negeri yang kalau ditakar bobotnya kurang lebih sama.

terima kasih tuhan telah membawa takdir untuk mengantar saya melihat bumi mu yang lain berupa sebuah kota di selatan Thailand.





Surabaya, 26 September 2015





Riffat Akhsan



You May Also Like

2 comments

  1. itu kok bisa ada gajah di jalanan? ada yang punya atau gimana? kasian banget euy~ mereka kan habitatnya di hutan :|

    ReplyDelete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.