Mistis dan Konstruksi, Dua Sisi yang Tak Pernah Berpisah

by - September 09, 2015


banyak yang teman teman yang bukan berlatar belakang konstruksi yang ketika tau saya adalah mbak mbak proyek konstruksi lantas bertanya "di proyek gitu mistis banget ya ? katanya harus ada "ganti" untuk sebuah proyek pembangunan ? (sebut saja "tumbal")



saya sebagai yang ditanya juga cegek, (nggak tau bahasa Indonesia nya cegek itu apa) disodori pertanyaan seperti ini. saya harus hati hati dalam menjawab, karena jawaban saya sangat menentukan pandangan mereka yang jauh dari dunia konstruksi tentang dunia konstruksi.

untuk yang horror macam penampakan ya Alhamdulillah belum pernah, meskipun pernah ada yang ngikutin sampe ke mimpi. anak pancang sama anak besi sering cerita ke saya kalau nggak pernah bisa tidur di direksi keet soalnya penunggunya nggak ikhlas, dll

waktu saya kecil, abah saya menjadi General Superintendend pembangunan PLTGU di daerah Tanjung Batu, Kutai Kartanegara. sebuah daerah transmigrasi dengan persawahan cantik di pinggir sungai mahakam. ketika itu alat berat koleksi saya hadir dalam bentuk aslinya. mulai dari tower crane, excavator, jack hammer tiang pancang, sampai wet batching plant dengan dilengkapi silo semen dan pasir masing masing kapasitas dua ton ada. semua sudah dalam keadaan stelling. siap untuk proyek besar dengan anggaran ratusan miliar.

masih lekat di ingatan saya, sore batching plant berwarna putih tersebut diletakkan dan dalam keadaan fix stel di pinggir sungai. daerah aman dan strategis untuk supply fresh concrete ratusan meter kubik.

keesokan harinya, sekitar setelah shalat shubuh ketika fajar sudah mulai berubah menjadi mentari worker proyek (security jaga malam) menggedor pintu rumah kami dan memanggil abah saya, beliau dengan panik dan nafas tersengal bercerita bahwa batching plant hanyut terbawa arus sungai.

abah saya yang baru pulang dari mushala langsung mengenakan helm putih beliau dan bergegas menuju lokasi proyek. saya dan Rusma ikut dong secara gitu ya kita mah selalu jadi ekor abah kalau beliau ke proyek. dan benar saja. batching plant yang sudah dalam keadaan fix stel hilang tak berbekas.

mana mungkin ada yang mampu mencuri wet bacthing plant dengan pasir dan semen sudah total mencapai angka 4 ton, belum berat sendiri yang dimiliki oleh silo, conveyor, quarry, dan segala aksesorisnya yang memiliki berat total puluhan ton ?

Tanjung Batu adalah daerah terpencil, tidak mungkin pekerjaan mob demob alat mampu dilakukan dalam semalam, emangnya roro jonggrang ?

kalau saya mengingat kejadian tersebut, hati kecil saya nyelatu "lha kok yang hilang batching plant yang harganya nggak sampe lima milyar ? kenapa nggak tower crane yang harganya minimal tiga puluh milyar ?"

balik ke cerita Tanjung Batu.

abah saya langsung menelepon tenaga ahli perusahaan, Mr Kim. seorang warga negara Korea Selatan (yang selalu membelikan saya dan Rusma es krim) (tapi sayangnya nggak seganteng kokoh Choi Joon Gii di film High Society) . beberapa jam kemudian Mr Kim datang ke lokasi proyek dan menyaksikan batching plant yang hilang dalam semalam dan berkata pada abah saya dengan bahasa inggris logat korea yang artinya "kita belum potong sapi Pak Fauzan" sebagai tanggapan dari kejadian batching plat hanyut di sungai mahakam ini.

setelah beli sapi, kemudian diadakan doa bersama dilanjut makan bersama dengan seluruh pekerja proyek, kemudian abah meminta mob demob batching plant baru. dan selanjutnya proyek berjalan normal sampai tahap serah terima.

 ketika saya diamanahi memegang proyek jembatan di Bontang, waktu itu posisi proyek PAS DI DEPAN KUBURAN. alat sering mati sendiri, pancang sering nggak masuk, yang paling epic adalah tiang pancang sedalam 50 meter bisa geser 50 centi ke kiri keesokan harinya. sungguh luar biasa.

setelah alat rewel minta ampun dan kejadian pancang geser ini akhirnya diadakan doa bareng dan tumpengan, saya sih standard aja yess. baca ayat kursi yang banyak, baca rabbi shrohli sodri, baca lailaha illallah al malikul haqqul mubin, dan syahadat sampe mulut capek. setelah itu alhamdulillah tidak terjadi hal aneh sampai serah terima.


terakhir saya di proyek pembangunan jembatan tidak jauh dari rumah saya. setelah alat pancang dalam keadaan fix stel, ada salah satu pekerja proyek yang memegangi ayam dengan ceker berwarna hitam tiga ekor. saya tanya untuk apa, dan semua yang saya tanya hanya menjawab dengan senyum.

oleh ketua pelayanan ( kebetulan kontraktor kami beragama nasrani dan berasal dari Tana Toraja ) kami yang menjabat posisi kunci di proyek dan seluruh pekerja bagian pemancangan pondasi diminta berdiri di dekat tiang pancang pertama dan alat pancang dimatikan. setelah alat pancang mati beliau menjelaskan untuk kami berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing masing, untuk nasrani beliau yang memimpin. 


tidak ada yang aneh aneh yang saya baca, seperti yang sudah sudah, namun karena disana banyak pohon bambu dan beberapa yang di pohon bambu sempat "menyapa" saya dan Rusma. saya permisi kepada mereka karena telah menganggu ketenangan mereka. saya juga berdoa agar semua dimudahkan dari awal pemancangan sampai nanti serah terima.

setelah agenda doa bersama selesai, ketua pelayanan meminta pimpinan pekerja pancang untuk menyembelih ayam, dan mengharuskan darah si ayam harus mengenai tiang pancang pertama sampai si ayam benar benar mati.

alhamdulillah pimpinan pancang beragama islam sehingga beliau menyembelih dengan menyebut nama Allah :) dari tiga ayam, yang disembelih hanya dua ekor. yang satu dilempar ke sungai (entah dengan alasan apa)


setelah acara sembelih ayam selesai, kami semua diminta memakan ketan yang dicampur dengan kelapa yang dimasak bersama santan dan cabe merah. luamayan pedas, awalnya saya ragu. kemudian ketua pelayanan mendekati saya dan berkata "Mbak, makanan ini halal. saya yang jamin"


setelah makan, saya bertanya ayam yang disembelih tadi dikemanakan ? dan dijawab oleh site manager kami "ya dimasak lah mbak" dan saya ikut membantu mereka masak, maklum cewek -___-


yang saya agak agak bingung si site manager memasukkan sendok bersama ayam ke wajan dengan alasan "kalau nggak pake sendok, nanti daging ayamnya keras" sumpah saya nggak paham apa korelasinya.

setelah acara masakin ayam, saya diskusi banyak dengan ketua pelayanan tentang ritual kegiatan sebelum proyek berlangsung. pada intinya acara doa bersama dilakukan untuk sama sama memohon perlindungan dan pertolongan Tuhan agar segala sesuatunya mudah dan lancar. dan terhindar dari segala sesuatu yang tidak diinginkan. untuk masalah darah ayam yang harus menempel di pancang pertama, itu dianalogikan karena proyek pembangunan, terutama kegiatan pondasi dianggap melukai alam, dan kita harus memberikan ganti agar keseimbangan alam seimbang.

benar tidaknya wallahu a'lam, kalau saya menganggap acara menyembelih dan doa bersama adalah salah satu bentuk syukur menang tender dan terbukanya jalan rezeki saya :D

konstruksi memang begitu, antara percaya nggak percaya. mau percaya terserah, tidak juga terserah. karena segala sesuatu berjalan atas izin Allah.



Surabaya, 9 September 2015





Riffat Akhsan





You May Also Like

2 comments

  1. kalian masih mengingatnya ya...umi sudah lupa, membaca ini ingatan langsung menyapa tanjung batu. terakhir kali ke sana kapan ya, 5 tahun lalu mungkin?. kalian masih ngotot ingin menengok dermaga di bibir sungai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dermaga di pinggir sungai, yang nggak berubah sama sekali

      Delete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.