Insiden Lamborghini dan Kedengkian yang Nyata

by - November 30, 2015

Sumber Gambar

hari Ahad pagi, ketika mayoritas warga Surabaya masih berselimut mimpi, (sementara saya harus berangkat survey jalan raya) publik Surabaya dikejutkan dengan insiden mobil sport mewah Lamborghini Gallardo yang melaju kencang kemudian menabrak rombong STMJ dan menewaskan satu orang serta dua orang lainnya patah tulang.

kejadiannya di jalan yang saya lewati setiap hari, manyar kertoardjo lurusannya jalan kertajaya. (yang ada gramednya itu lhooo)

kejadian shubuh shubuh ini menghebohkan publik Surabaya. pertama karena mobil yang ringsek adalah mobil mewah seharga lima milyar yang nggak tiap hari kita liat, kedua aksi ini disebabkan oleh perilaku balapan liar dengan mobil yang nggak kalah mahalnya ferrari yang kemudian berujung pada pembunuhan. (karena ada korban tewas) dan sebagai pelengkap informasi kecelakaan, pelakunya masih seumur dengan saya.

hari minggu linimasa masih nggak terlalu heboh, namun ketika hari senin, ketika beberapa media nasional memberitakan insiden ini, publik heboh, on fire, cetar membahana, komentar komentar nyinyir dan sinis berseliweran tiap detik, analisa hukum para pakar wannabe bermunculan yang semakin panas karena menuai banyak retweet dan komentar.

tapi saya menangkap sebuah kedengkian nyata dalam insiden ini.

kalau saja yang menabrak adalah sebuah sepeda motor butut tua dengan pengemudi adalah seorang laki laki renta tentu ceritanya akan berbeda.

kalau saja yang menabrak adalah lyn jurusan keputih joyoboyo ceritanya akan berbeda, begitu pula kalau harga mobil yang menabrak hanya seharga seratus dua ratus juta. beda lagi ceritanya.

ada beberapa hal yang menurut saya melatarbelakangi hebohnya nyinyiran untuk pelaku lamborghini ini.

pertama, karena mayoritas yang nyinyir ini adalah kaum adam. maka bisa saya simpulkan kalau mereka pengen punya mobil sport seharga milyaran rupiah juga, sayang takdir cuma kasih mobil harga seratus dua ratus jutaan, itupun harus nyicil sekitar lima tahunan.

kedua, umur si pelaku yang masih seumur saya menunjukkan bahwa si pelaku terlahir dari keluarga super kaya yang mendukung ia sukses di usia muda.

ketiga, insiden ini berawal dari sebuah balapan liar antar supercar yang semakin menegaskan jurang antara si kaya, dan si pengen kaya. aksi balapan liar adalah pakem untuk kaum hedonis kelas atas. sekedar informasi Lamborghini Gallardo yang menabrak rombong STMJ ini keluaran tahun 2012 dan mampu mencapai kecepatan diatas 100 km/jam dalam waktu 3,4 detik.

respon masyarakat ini adalah akumulasi dari kedengkian akibat kecemburuan sosial elemen masyarakat, mari kita fokus saja pada substansi masalah. siapapun pelaku tabrakan hingga menewaskan nyawa seseorang adalah tindakan kriminal. terlepas apapun kendaraannya.

ada beberapa ungkapan nyinyir terkait penyelesaian hukum insiden ini, komentar seperti "mobil semahal itu aja bisa dia beli, hukum pastilah kecil bagi dia atau "nyawa pembeli STMJ lebih murah dari lamborghini"

padahal, kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, apa yang harus si pemilik lamborghini tanggung, apa masalahnya, apa yang dia perjuangkan, apa perih dan luka yang harus dia tanggung, apa penolakan yang dia hadapi, dll tuhan itu adil. kita saja yang terlalu dengki sehingga hanya melihat sisi lebihnya ia dan kurangnya kita.

buat apa sih berkomentar seperti itu ? toh si pelaku juga sudah ditahan, perkara bagaimana endingnya biar hukum yang berbicara. tidak perlulah kita membuang energi berlebihan untuk mengomentari kejadian yang kita tau hanya berdasar informasi yang beredar.

prihatin itu wajar, tapi kalo nyinyirnya berlebihan ya ruginya ke diri sendiri lah.

jangan terlalu nyinyirlah, makin kelihatan dengkinya.

renungan awal pekan, jum'at masih lama bro. hari libur nasional karena pilkada serentak juga masih sembilan harian lagi. simpan simpanlah energi untuk bertahan menghadapi hari.






Surabaya, 30 November 2015





Riffat Akhsan

You May Also Like

4 comments

  1. betul sekali. ulasan yang menarik. mengapa oh mengapa banyak sekali di masyarakat yang hobinya nyinyir. padahal kejadian (lakalantas) sehari2 mungkin lbh banyak dari sepeda motor cicilan dan angkot.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha masyarakat kita harus lebih banyak lagi belajar tentang lapang dada

      Delete
  2. Saking nyinyirnya, di poster festival jazz Tunjungan weekend ini sampai ada tulisan "Parkir motor atau mobilmu kalau mau nonton supaya nggak sampai diseruduk Lamborghini"

    Sebetulnya kalimat itu lucu, tapi membayangkan si pelaku sekarang sudah ditahan dan harus dirawat di rumah sakit polisi (bukan di rumah sakit mewah di Jenjeran itu) membuat saya merasa kalimat itu sungguh tidak enak. Bagaimana perasaan ibu si pelaku, sudah caoek-capek membesarkan anak supaya bisa nyetir mobil sendiri, kemudian si anak sekarang malah menewaskan orang dan jadi bulan-bulanan analis-hukum-wannabe?

    ReplyDelete
    Replies
    1. analis hukum wannabe jumlahnya udah kayak bintang di langit saking banyaknya :/

      Delete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.