Saya Menjadi Seperti Ini Karena Doa Ibu Saya

by - December 22, 2015


saya begini karena doa ibu saya, ibu saya yang ngotot saya harus melanjutkan sekolah di jawa timur selepas SD. yang waktu itu banyak sekali cibiran "kan sekolah di amuntai (kalimantan selatan) sama di jawa sama aja ilmunya, beda harga aja"

ilmu boleh sama, tapi pengalaman hidup jelas beda. di Jombang saya benar benar tau arti dari menjadi minoritas dalam bermasyarakat dan bertahan hidup selama enam tahun di tengah segala keterbatasan, dan saya berhasil, karena doa ibu saya. sampai hari ini kalau saya mengingat masa lalu enam tahun di Darul Ulum saya sering bertanya pada diri sendiri "kok bisa ya aku dulu bertahan ?" kembali, karena doa ibu saya yang yakin dan percaya bahwa Allah yang menciptakan saya, Allah pula yang memelihara saya dimanapun saya berada. kembali doa yang terlantun tanpa henti yang membuat saya bisa bertahan dan akhirnya lulus.

lulus di Jombang, lanjut ke Surabaya. tiga tahun sudah saya di kota pelabuhan ini. disaat banyak teman teman saya memutuskan ke Malang, Bandung, Jogja, untuk berkuliah dengan pertimbangan biaya hidup yang lebih murah, saya memutuskan untuk melanjutkan di Surabaya. saya tidak memusingkan biaya hidup selama kuliah, akses transportasi, dan lain lainnya ketika memilih Surabaya. pikiran saya sesederhana : di Surabaya ada wali Allah yang makamnya bisa saya kunjungi kapan saja karena relatif dekat dengan wilayah kampus.

lagi lagi ini karena doa ibu saya, saya benar benar dibawa pada satu kesempatan besar ke kesempatan besar lain. Surabaya benar benar memberi gambaran how to face the global business world straightly. Surabaya memberi gambaran nyata setiap lapisan kelas sosial manusia dengan segala permasalahannya dan menyodorkan pertanyaan pada saya : which one do you want ?.

saya pikir saya di Surabaya akan menjadi full time mahasiswa, mengerjakan tugas dengan baik, IPK menjulang, berorganisasi di lingkungan kampus, dan siap siap balik kucing ke kalimantan. tapi ternyata saya salah, percepatan teknologi informasi dan era ekonomi digital disusul dengan masyarakat ekonomi ASEAN membuat warga Surabaya dituntut untuk bertransformasi menjadi penduduk masyarakat global : kamu yang menjadi tuan dan nyonya di Surabaya atau kamu menjadi babu di kotamu sendiri.

desakan untuk berubah itu yang membuat saya yang strict to the construction as the one and only way to build a business empire mulai goyah, i must move rapidly if i want to catch my dream : get the financial freedom.

lagi lagi karena doa ibu saya, saya kemudian bertemu dengan si jenius Bos Y dan diajak menjadi salah satu jajaran direksi di perusahaan yang ia bangun. life laugh at me loudly. idealisme saya hancur karena berpikir there is one way to get a financial freedom. life prove me that Allah have sooo many way to make me get financial freedom, not only from construction sector.

doa ibu saya itu luar biasa mandhi. terkabulnya sangat cepat bahkan hanya dalam hitungan detik dalam beberapa kasus. jadi saya sih cuma bisa ketawa sama CEO salah satu (calon) unicorn yang meragukan orangtuanya untuk bisa memberi proffessional advice. toh ibu saya dengan doanya membuat semua proffessional advice menjadi bapuk karena doa beliau yang nyatanya lebih sering menyelesaikan masalah saya :))

selamat hari ibu, malaikat tuhan yang rela mati hanya untuk melahirkan saya. umi Rusmiati Indrayani.




Surabaya, 22 Desember 2015




Riffat Akhsan

You May Also Like

4 comments

  1. Inspiratif banget kisahnya, Mba. Alhamdulillah, saya juga sangat merasakan banget khasiat dari doa ibu, selalu bikin hati 100% yakin sama setiap tindakan yang mau diambil. Selamat hari ibu ya, Mba Riffa. :)

    Salam kenal,
    http://penjajakata.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah senang tulisan saya bisa menginspirasi, salam kenal penjaja kata :)

      Delete
  2. Kesempatan untuk memperbesar networking di Surabaya jelas jauh lebih besar daripada di Amuntai. Itu yang nggak bisa dibayar dengan bersekolah hanya di Amuntai, menurut saya sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, kadang orang dengan pikiran sempit tuh overpede dengan pendapatnya

      Delete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.