Review Film Surat Dari Praha

by - February 07, 2016

Sumber Gambar
jarang jarang saya mau review film di blog ini, disamping karena too many detail juga karena sepertinya saya jadi kurang menikmati film. nah, kalau saya nulis review sebuah film hanya ada 2 pilihan : bagus banget atau jelek banget.

Sumber Gambar
jadi, ditengah kerjaan kantor yang ngehek gila menyebalkan tapi nagih, saya sama Rusma niat banget buat nonton film ini karena si Rusma ngebet banget. kami sengaja memilih hari kerja karena kalau hari libur harga tiketnya mahal, dan lebihan beli tiket bioskop bisa saya pake buat bangun ruma tangga sama si kokoh *eh gimana*.

RINGKASAN CERITA
semua berawal dari Kemala Dahayu Larasati yang menemui Sulastri (ibunya) di rumah sakit setelah setahun menghilang tanpa kabar. Larasati bermaksud meminjam sertifikat rumah guna membayar hutang suaminya sebelum mengajukan gugatan cerai. ibunya sempat mendebat kenapa harus bercerai yang dijawab Larasati ia lebih memilih cerai daripada hidup sama suami yang tidur sama perempuan lain disaat kehamilannya memasuki usia dua bulan dan mengakibatkan ia keguguran.

masih, belum ada kata sepakat apakah Sulastri mau meminjamkan sertifikat rumah, Larasati minta izin untuk menemui pengacaranya di lobby rumah sakit. pengacara menegaskan bahwa hutang suaminya juga harus dilunasi oleh Larasati karena tidak ada perjanjian pra nikah yang mengatur harta di pernikahan mereka sehingga mau nggak mau Larasati harus ikut melunasi hutang suaminya kalau mau benar benar bercerai. pengaracara juga menjelaskan begitu invoice jasa yang diajukan si pengacara dibayar oleh Larasati, maka perceraiannya bisa segera diproses.

eh pas balik ke kamar tempat ibunya dirawat, ternyata ibunya Larasati udah masuk kamar operasi aja dong. yah kemudian saya tau kalau Sulastri meninggal karena ada adegan yasinan di rumah Larasati dan karangan bunga dukacita yang berjejer.

belum 40 hari kematian ibunya, Larasati langsung meminta Notaris untuk surat wasiat ibunya dibacakan. dengan terpaksa dibacakanlah wasiat bahwa rumah yang ditinggali Sulastri akan diberikan kepada anak satu satunya Kemala Dahayu Larasati dengan syarat ia harus ke Praha untuk mengantarkan kotak dan surat kepada seseorang bernama Jaya, warisan akan diberikan setelah Larasati mampu memberikan bukti berupa tanda terima yang ditanda tangani oleh Jaya sebagai bentuk otentik bahwa Larasati telah melakukan apa yang diamanatkan ibunya.

cerita berlanjut pada pertanyaan Larasati, siapa sebenarnya Jaya dan apa hubungannya dengan ibunya. Jaya yang merupakan sarjana Nuklir namun berpuluh puluh tahun menjadi janitor akibat kewarganeraannya dicabut. apa maksud 136 surat dari Praha yang dikirimkan selama 11 tahun usia pernikahan Sulastri.  cerita berlanjut sampai akhirnya semua clear dan Jaya membaca surat balasan dari Sulastri yang dibawa oleh Larasati.

"Hidup Menimbun Ingatan, Merayakan yang Ada dengan yang Tak Ada"

REVIEW
jujur, ini adalah film dengan musikalitas terindah yang pernah saya tonton. ya saya adalah pecinta instrumen piano klasik. film ini berkelas dengan caranya sendiri, semua unsur musikalitas mulai dari piano, biola, sampai harmonika begitu menyihir saya, ditambah dengan suara Tio Pakusadewo dan Julie Estelle menambah poin kekaguman saya dengan film ini. Sabda Rindu dan Nyali Terakhir adalah dua lagu yang sukses menawan saya untuk menjadikan dua lagu ini adalah lagu yang memikat saya di tahun ini.   

rasa haru dan nasionalisme sukses mengaduk aduk emosi saya sepanjang film, terlebih ketika lagu "Indonesia Tanah Air Beta" dinyanyikan oleh empat orang beruban yang memasuki usia senja, cinta tanah air namun tidak mampu meminum air dan mati berkalang tanah di tanah airnya sendiri karena kejahatan rezim pemerintahan saat itu.

"Tidak Semua Sukarnois Adalah Komunis"

saya adalah orang cengeng yang nggak bisa disuguhi film bagus, alhasil saya menangis sepanjang film (nggak bawa tissue pula) mulai dari adegan Jaya memainkan instrumen piano dengan nada sedih dan berkata ke anjingnya yang ia beri nama Bagong "Lastri Sedo, Gong...." sampai surat balasan dari Sulastri dibacakan. saya mengerti arti dari cinta sejati dan cinta selamanya dari film ini.

"Sebelum Berangkat Ke Praha, Saya Berjanji untuk 2 Hal : kembali ke Indonesia dan menikahi Sulastri dan Mencintai Sulastri Selamanya, Ternyata Saya Hanya Bisa Menepati yang Kedua"

menonton film ini membawa saya kembali ke jaman 65, dimana abah saya saja baru berumur satu tahun. apalagi saya ?. film ini penting ditonton generasi 90 an seperti saya, karena propaganda itu terjadi ketika kami belum lahir.

"di masa itu, bahkan persoalan mencintai saja menjadi rumit"

sinematografi yang ciamik dan totalitas dalam penataan latar menambah poin untuk film ini, dialog yang mudah dipahami untuk menjelaskan sejarah yang terjadi membuat pemahaman saya tentang negara Cekoslovakia dan apa yang terjadi di masa itu, di tengah situasi politik Indonesia menjadi lebih mudah dipahami dibandingkan buku buku pelajaran sejarah yang saya baca.

"Sepertinya Lebih Mudah Belajar Sejarah dari Film dan Novel"

good job untuk film ini, untuk kamu kamu yang belum nonton. tonton gih sebelum film ini turun. oh iya jangan lupa bawa tissue ya buat elap elap air mata. jangan kayak saya yang keluar bioskop dengan muka merah nangis kayak habis diputusin.






Surabaya, 7 Februari 2016




Riffat Akhsan

You May Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.