Kita Hidup di Negara Opini

by - April 11, 2016

Sumber Gambar


beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah drama yang cukup membuat saya berpikir. jadi ceritanya di sebuah sekolah ada anak paling pintar, sebut saja si A dan anak paling bodoh sebut saja si B yang berada di kelas yang sama.

suatu kali kelas tersebut mengerjakan ujian yang hasilnya peringkat tertinggi akan dikirim mewakili sekolah tersebut untuk mengikuti olimpiade.

tak disangka, si B mendapatkan nilai 100 (sempurna) sementara si A "hanya" mendapatkan nilai 96.

seisi kelas heboh, banyak spekulasi yang menuding si B berbuat curang, bagaimana bisa seorang paling bodoh memiliki nilai lebih tinggi ketimbang si paling pintar ?

akhirnya wali kelas memutuskan untuk mengirim si A mewakili sekolah untuk ke olimpiade karena tidak percaya bahwa si B mengerjakan ujian dengan jujur.

si B kemudian ditimpa spekulasi bahwa ia berbuat curang, mendapat kunci jawaban, meretas jaringan sekolah demi kunci ujian, dan lain sebagainya. tanpa ada bukti.

si B dipanggil ke ruang guru oleh wali kelas, ditekan untuk mengklarifikasi spekulasi tersebut.

wali kelas : B, kamu harus menandatangani lembar pernyataan permintaan maaf karena berbuat curang, mengakui kesalahanmu, dan mengklarifikasi semua rumor yang beredar di luar sana.

B : kenapa saya harus dipaksa mengakui dan bertanggung jawab untuk kesalahan yang tidak saya lakukan, rumor jelek memang menimpa saya tapi bukan berarti itu adalah kebenaran.

wali kelas : apapun yang terjadi kamu harus tetap bertanggung jawab atas rumor tersebut.

B : kenapa saya harus bertanggung jawab atas rumor yang bahkan saya tidak tau siapa yang menyebarkan.

wali kelas : karena kamu adalah subjek dari rumor.

si B terdiam.

B : pak wali kelas, bapak tau ibu X di seberang sana kan ? sambil menunjuk salah seorang guru perempuan yang kebetulan masih belum menikah  

wali kelas mengangguk

B : keluar dari kelas ini saya akan menyebarkan rumor bahwa bapak selingkuh dengan ibu X

wali kelas : kenapa kamu melakukan itu ?

B :  apapun yang terjadi, bapak harus bertanggungjawab terhadap rumor tersebut

wali kelas : kenapa saya harus dipaksa mengakui dan bertanggung jawab untuk kesalahan yang tidak saya lakukan, rumor jelek memang menimpa saya tapi bukan berarti itu adalah kebenaran.

B : bapak harus menandatangani lembar pernyataan permintaan maaf, mengakui kesalahan bapak, dan mengklarifikasi semua rumor yang beredar di luar sana.

wali kelas : kenapa saya harus bertanggung jawab atas rumor ?

B : karena bapak adalah subjek dari rumor,

wali kelas terdiam, kemudian si B melangkah keluar dari ruang guru.

------------------------------------------------------------------

cuplikan adegan di atas membuat saya berpikir, hal seperti ini seringkali terjadi di masyarakat kita. sebuah prasangka, spekulasi yang kemudian terkristalisasi menjadi sebuah opini berujung fitnah.

ya, kita adalah bangsa sakit yang hidup di negara opini.

opini adalah hal paling laku di negeri ini, tidak heran media media berbasis opini menuai traffic gurih berujung pundi pundi rupiah bermodal opini subjektif ditambah bumbu bumbu data dan fakta sedikit sedikit.

bahkan tulisan ini pun merupakan opini.

spekulasi, asumsi, ditambah sedikit aroma iri dan sirik plus bumbu kebencian sukses mendulang fitnah dengan sangat mudah di negeri ini.

sudah banyak mereka yang tumbang akibat kejahatan aksara kata model begini, mereka yang sukses menyandang "gelar baru" akibat penghakiman tak berdasar dituntut untuk mengklarifikasi hal hal yang sudah sangat jauh dari substansi sebenarnya.

tidakkah ini sebuah kejahatan terstruktur bin murah yang dilakukan akibat kebodohan pikir dan kurangnya pengendalian diri ?

pikiran yang objektif, pengendalian diri, dan nurani yang bersih menjadi barang langka yang mampu menghindarkan kita dari kerasnya hidup di negara opini ini.

opini itu baik, karena merupakan kritik membangun yang disampaikan dengan santun. jika memang benar itu opini, jika diliputi kebencian, amarah, semangat menjatuhkan opini tersebut tidak lebih dari hate speech berkedok opini.

semoga kemudahan teknologi tidak membuat kita mempermalukan diri sendiri dengan mengirim spekulasi ngawur berbentuk opini bernafaskan kebencian tanpa pikir panjang, yang pada akhirnya tidak mampu kita tangani akibat yang ia sebabkan.

karena anak panah yang dilesatkan menembus jantung, meskipun bisa dicabut dan sembuh akan selalu meninggalkan keperihan batin tak terlupakan.



Surabaya, 11 April 2016



Riffat Akhsan

You May Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.