Sekali Lagi, Tentang Ilmu Lapangan

by - February 20, 2017


beberapa waktu yang lalu, saya dimintai tolong oleh orang yang malang melintang pentantang petenteng mengerjakan pekerjaan konstruksi tanpa latar belakang ilmu konstruksi yang mumpuni. bertahun tahun iya nyinyir dengan usia muda saya yang menempati jabatan penanggungjawab teknis sementara kemampuannya sudah diakui oleh tukang tukangnya dari banyaknya bangunan yang ia kerjakan.

heran saya, kenapa kok ya minta tolong ke saya.

rupanya berdasarkan lobby lobby unyu si bapak karena pengalaman konstruksinya yang malang melintang di daerah saya beliau diberi rezeki oleh tuhan berupa proyek mandiri pembangunan saluran irigasi yang nilai fisiknya lumayan.

sayangnya si bapak lupa kalau selama kariernya di dunia konstruksi beliau selalu melaksanakan pembangunan proyek konstruksi yang sudah terlebih dahulu memiliki berkas lengkap seperti (detail engineering design) yang mana tertera jelas dimensi penampang konstruksi sampai ke berapa buah besi tulangan hingga jarak antar tulangan.

sepintas saluran irigasi terlihat hanya seperti "parit" yang biasa dikerjakan oleh si bapak, singkat cerita diambillah proyek mandiri pembangunan irigasi ini.

belakangan si bapak baru sadar bahwa proyek mandiri merupakan proyek swakelola yang mana nilai kontrak meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan bangunan konstruksi. sangat jauh berbeda dengan proyek proyek yang biasa "dipercayakan" oleh site engineer, site manager, dan project manager, dimana si bapak hanya bertugas melaksanakan sesuai arahan para penanggungjawab proyek.

di titik inilah si bapak menghubungi sekaligus minta tolong ke saya.

jadi beliau minta rumus penentuan dimensi saluran irigasi untuk mulai "merencanakan" proyek yang didapatnya sehingga beliau hanya cukup merubah rubah harga satuan proyek sebelum pengajuan guna validasi dan verifikasi pemenang. (sebagai informasi biasanya proyek seperti ini tidak melalui mekanisme tender)

proyek yang beliau miliki merupakan perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan irigasi untuk mengairi sekitar 20 hektar lahan pertanian dengan kala ulang 25 tahun di hulu mahakam

"aku pontang panting cari rumus ini mbak, tolong ya bikinkan excelnya hitung volume itu gimana jadi aku tinggal ganti ganti harga aja. ada fee untuk mbak. tapi nggak besar. tapi lumayanlah. tolong lho mbak"

ketika saya tanya apakah sudah ada shop drawing sehingga saya bisa membayangkan berapa volume galian timbunan dan perhitungan pasangan batu beliau lantas mengirimkan foto lahan kosong. iya saudara saudara anda tidak salah baca, LAHAN KOSONG. katanya mau bangun saluran irigasi disana.

oke disini hati saya udah mulai gemas.

ketika saya tanya apakah sudah ada saluran irigasi eksisting disana beliau mengirimkan foto saluran irigasi dan menyuruh saya menghitung kira kira berapa dimensi saluran dari foto yang ia kirimkan.

pelan pelan saya jelaskan bahwa untuk menentukan dimensi irigasi dengan kala ulang 25 tahun saya harus survei ke lapangan dulu, memetakan lahan pertanian dan persimpangan irigasi, mengetahui berapa curah hujan daerah sana untuk kemudian menghitung debit andalan sehingga akan ketemu berapa dimensi saluran irigasi yang menampung. saya juga butuh tau keberadaan pintu air, bendungan (jika ada), serta sumber air baku terdekat yang akan mengairi lahan tersebut dengan sistem irigasi. lebih jauh saya juga ingin memperjelas irigasi apakah yang akan saya rencanakan (primer, sekunder, atau tersier).

mudahnya saya mundur dari permintaan si bapak karena saya nggak bisa ke mahakam ulu untuk survei proyek lain tanpa seizin kantor saya dan saya males dengan risiko kalau gagal panen akibat banjir pasti perencana irigasinya yang dicari.

rupanya si bapak makin gemas sama saya karena dianggap mempersulit hal yang mudah lantas membentak "mbaknya kok ribet banget sih, saya cuma perlu gimana caranya hitung volume jadi saya tinggal rubah harga kok repot. saya minta file perencanaan irigasi nya mbak aja biar saya pelajari sendiri. saya bangun irigasi ikut proyek juga sudah bertahun tahun kok. mbak masih muda sih jadi nggak tau seberapa banyak pengalaman saya"

karena males cari ribut saya kirimlah salah satu file perencanaan irigasi tersier paling simpel yang saya punya yang kemudian direspon oleh si bapak dengan "mbak, saya nggak butuh perencanaan super ribet kayak punya mbak. saya cuma butuh yang sederhana yang tinggal saya rubah rubah harganya"

dan kemudian saya sudahi percakapan itu dengan menawarkan solusi silahkan bapak mencari orang lain yang bisa memberikan apa yang bapak minta karena saya cuma bisa bantu sampai memberikan salah satu contoh file perencanaan yang pernah saya kerjakan. saya percaya diluar sana (semoga) ada engineer yang lebih handal dari saya yang mampu memberikan bantuan sesuai keinginan si bapak.    

Kuliah adalah tentang menyelami cara berpikir profesional.

banyak sekali diluar sana yang terjun dalam bidang konstruksi (dan beberapa) sukses berbisnis konstruksi tanpa harus susah payah menempuh pendidikan teknik sipil. ntah itu lewat sekolah menengah kejuruan, melalui kursus - kursus, ataupun melalui proses trial - error dimana dalam proses ini ungkapan "pengalaman merupakan guru yang amat berharga" benar adanya. ya seperti bapak yang saya ceritakan di atas.

disisi lain, banyak saya temui sarjana teori, mereka yang lulus dengan nilai mengagumkan namun jawaban dari satu  meter kubik kayu ulin terdiri dari berapa buah papan saja tidak tahu jawabannya. (ini adalah salah satu pengalaman memalukan yang menjadi bahan tertawaan bos saya dan membuat logistik kantor yang pendidikan terakhirnya SMK pembangunan semakin yakin bahwa kuliah teknik sipil itu tidak penting)

teknik sipil merupakan salah satu dari sedikit program studi paling tua di Indonesia, namun sampai hari ini masih saja banyak perdebatan tentang seberapa besar peran seorang civil engineer dalam proyek pembangunan rumah tipe 36, pembangunan parit plengsengan batu kali, atau dalam proyek pengecoran gang sempit dengan panjang 200 meter yang notabene mereka modal pengalaman mampu mengerjakan itu tanpa gelar insinyur di depan namanya.

banyak ilmu lapangan yang mampu berdiri congkak menampar air mata pengorbanan kuliah teknik sipil.

selamanya lapangan akan butuh para insyinyur sipil, dan selamanya lapangan akan butuh dipimpin oleh insinyur teknik sipil dalam kaitannya dengan tanggung jawab manajemen risiko selama perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan proyek konstruksi.

karena kuliah mendidik kita untuk berpikir sesuai keahlian, namun ahli saja tidak akan terbukti bila tidak diuji di lapangan.

hai para insinyur sipil, turunlah ke lapangan untuuk membuktikan "sarjana teori" hanyalah mitos.







Samarinda, 20 Februari 2017




Riffat Akhsan

You May Also Like

1 comments

  1. teknis sementara kemampuannya sudah diakui oleh tukang tukangnya dari banyaknya bangunan yang ia kerjakan.

    http://sabungs128.live/

    ReplyDelete

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.