Nikah : Jual Diri atau Ibadah ?

by - March 27, 2017


sumber gambar : twitter +Ukhti Sally 

selain ibu ibu naik motor matic sein kanan padahal belok kiri dan ibu ibu bawa mobil sambil bikin alis, kini dunia persilatan dimeriahkan oleh rombongan ukhti ukhti kebelet nikah.

menikah atas nama ibadah untuk menyamarkan rasa penasaran
masyarakat Indonesia selalu resek dengan issue issue berbau selangkangan. aksi massa turun ke jalan demi menolak kedatangan bintang porno asal Jepang, pertanyaan "kapan nikah" tak berkesudahan, kampanye nikah muda untuk menghindari zina (membawa tuhan untuk urusan selangkangan seakan halal dan beradab), membawa dalil dalil yang (sekiranya) berhubungan untuk mengutuk mereka yang belum menikah dengan istilah "tidak mau menyempurnakan separuh agama", menajamkan budaya patriarkis untuk segera menikah karena perempuan independent itu seram, sampai sampai menghancurkan logika dengan menganggap menikah menyelesaikan semua masalah.
  
selain karena susahnya mengakses konten sex education atas nama "moral" yang menganggap seks itu tabu dan membuat masyakarat kita jadi terobsesi menikah atas pengaruh "penasaran akan surga dunia yang merupakan kebutuhan layaknya makan, namun bagi masyarakat menjadi sesuatu yang sangat terkutuk untuk dibicarakan". masyarakat kita juga beragama tanpa berpikir, atau istilah kerennya amaliah yang tidak ilmiah. hal ini membuat tingginya angka menikah muda berbanding lurus dengan angka perceraian di usia muda, yang setelah dilakukan riset lebih lanjut akar masalahnya adalah kegagalan memahami makna "menikah menyempurnakan separuh agama" secara keseluruhan didukung oleh rasa penasaran atas seks itu sendiri.


apatisme : menikah = jual diri
ada fenomena menarik di kalangan dewasa muda dalam konteks tercampurnya ambisi selangkangan dengan agama ini : banyak para dewasa muda apatis terhadap pernikahan karena hal itu dipandang sebagai salah satu upaya menggadaikan kebebasan diri dan perasaan untuk dikuasai oleh budaya patriarkis yang didukung oleh agama dan negara. bahasa gampangnya menurut mereka menikah adalah proses jual diri yang sah di mata agama dan negara.

fenomena ini semakin ironis dengan perilaku nyinyir dan merendahkan atas kampanye para aktivis "nikah (muda) biar nggak bokek" yang dipandang kontradiktif dengan pandangan para dewasa muda ini. hasilnya banyak kita lihat "perang idealisme" antara si apatis menikah dan pegiat menikah.







  sumber gambar : simple random sampling yang saya dapatkan dari twitter

menikah : benarkah menyelesaikan masalah ?
coba kita breakdown ya tentang proses pernikahan. mulai dari milih tema pernikahan, kain, souvenir, gedung, pengisi acara, desain undangan, katering, akomodasi keluarga, dsb itu juga sudah masalah karena dua mempelai dan dua keluarga punya mau yang berbeda.

lanjut setelah wedding day, bagi mereka yang utang kateringan udah lunas bisa langsung mikirin honeymoon dimana (beberapa udah ngerencanain dari sebelum nikah). itu juga masalah. apalagi yang angpau nikahan masih nggak bisa nutupin biaya katering. wah tambah masalah.

setelah hingar bingar wedding day serta honeymoon selesai dan jatah cuti udah mau abis muncul lagi masalah bagi yang ternyata kerja satu kantor, tentang siapa yang mengalah pindah cabang. bagi yang beda kota dan punya perusahaan sendiri juga muncul masalah siapa yang mengalah memindahkan kantornya (kalau memungkinkan) untuk ikut pasangannya. bagi yang sama sama punya posisi di kantor tapi beda kota juga mulai mikirin salah satu resign atau menjalani long distance marriage. bagi yang mendedikasikan diri untuk jadi ibu rumah tangga mulai kerasa pergulatan hati pisah jauh sama orangtua.

masalah tempat tinggal, ada yang mulai mikir gabungin gaji buat nyicil KPR padahal masih punya tanggungan keluarga, mulai bingung mikirin untuk nggak tinggal di rumah orangtua, ada yang udah nyicil apartemen tapi ternyata apartemen nya belum jadi karena proyek molor dan developernya kesandung masalah izin, ada yang ngotot ngekos karena deket sama kantor dan masih belum ada cost buat bensin ke kantor dan lain sebagainya.

ketika ada anak, masalah muncul untuk pilihan pendidikan, asuransi, dan bagaimana pola didikan. kapan si ayah yang berperan dan si ibu yang berperan dalam pendidikan keluarga.

belum lagi masalah finansial, maunya dilarikan buat hobby dan gaya hidup apa daya popok dan susu anak habis jadi harus segera beli.

begitu seterusnya seiring umur pernikahan.

dan jangan lupakan masalah non teknis yang remeh remeh tentang sikap dan perkataan apalagi yang menyangkut keluarga besar.

jadi, benarkah pernikahan menyelesaikan masalah ?

kalau yang dimaksud adalah salah satu berpenghasilan (suami) dan yang lain tidak (istri) sehingga masalah (istri) yang tidak berpenghasilan ini menjadi selesai karena pernikahan, sepertinya ada anggapan yang harus dimengerti bagi mereka mereka yang menjadikan suaminya ATM ini. dalam konteks masyarakat kita, ada fenomena dimana gaji satu orang untuk dipakai sendiri berlebihan, namun dipakai untuk dua orang kurang.

silahkan direnungkan.

tapi ya kalau nikah sama APBN atau mereka yang memiliki kekayaan setara APBN beda soal lah ya......  

menikahlah ketika siap
saya membayangkan ketika semua bucket list dan dreamy branded stuff list saya sudah terpenuhi, basic stuff (seperti gadget dan mobil) juga sudah terpenuhi, saya (sebagai perempuan) memiliki penghasilan tetap untuk kebutuhan dan gaya hidup, serta pasangan yang balancing me in his own way dan pastinya mencintai saya dan saya juga mencintainya. lantas apakah kami nggak menikah ?

basicly dalam tahap pacaran (yang sehat) pun perempuan dan laki laki akan kembali pada kodratnya, independent woman who had power, intelegence, and position pada titik tertentu merasa lelah menghadapi dunia sendirian, and the gentleman who had dignity, power, and ego, secara natural akan keluar sisi memimpin, melindungi, membimbing, (perhaps memiliki) dan inisiatif untuk merealisasikan hal itu berupa tawaran untuk menikahi perempuan yang dia cintai (secara sadar dan logis).    

dalam tahap ini jual diri atau ibadah menjadi tidak relevan, tapi lebih kepada sharing every moment for the rest of your life with your loves one dan ketika semua sudah terasa pas dan kamu sudah tidak membutuhkan apapun lagi untuk ego dan ambisi secara berlebihan maka the next step is to unburden all you have to the only reason why you called as mom and dad : children.

dari sudut pandang agamapun, pahala pernikahan akan mengikuti perjalanan kalian secara otomatis. talking about sex ? it's always involve as the desert, not the appetizer because the main course is the fulfillment feeling that preceded by the needed of each other of the lovebirds as the appetizer.  

tapi semua itu nggak mungkin berjalan dengan baik tanpa pemahaman yang logis bahwa pernikahan merupakan kerjasama dua orang. kompromi dan komunikasi berperan penting dalam upaya suksesi pernikahan. nggak mudah menyatukan dua orang, dua pikiran, dua latar belakang, dua cara berekspresi, dua emosi, dua selera, dua kecerdasan, dua ketangguhan yang sama sama memiliki bargain power yang setara dalam setiap pengambilan keputusan dalam pernikahan. kembali kepada kesediaan mengalah dan mengerti posisi, hormat dan saling menyayangi siapa imam siapa makmum. don't be overlapping as wife and don't be egoist as a husband.

akhir kata apapun pandangan dan pikiran anda, tanpa melupakan manajemen risiko pilihan kembali kepada mereka yang (ditodong) menikah.

bahasa kerennya "yo wes sak karep mu".

*sayup sayup terdengar ungkapan bijak "mbak, nikah itu nggak sehorror itu kok, selalu ada jalan mbak dalam menyelesaikan setiap masalah dalam pernikahan. mbaknya sih belum nikah"*




Samarinda, 27 Maret 2017




Riffat Akhsan







You May Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.