Kancing yang Terlepas, Sebuah Mesin Waktu

by - July 18, 2017



saya jarang sempat untuk membaca karya sastra anti mainstream berbau sejarah. bahkan ketika saudara kembar saya  secara heboh mendorong saya membaca novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala yang memberikan kesempatan pada rakyat jelata seperti saya mengintip "dapur" dari bisnis rokok beserta pusaran bisnis yang menyertainya, sampai hari ini pun saya masih belum sempat untuk membaca novel tersebut.

tapi novel ini adalah pengecualian ; saya terhipnotis sejak paragraf pertama.


SINOPSIS CERITA

kalau boleh saya rangkum, novel ini bercerita tentang syair - syair, kelompok yang terusir dan asmara yang tidak terselesaikan. tentang perempuan, politik dan kekuasaan. tentang Indonesia dari sisi yang berbeda.

Percintaan tulus beda zaman kokoh berusia senja Tek Siang dengan perempuan muda awal dua puluhan yang ia rawat, lindungi, dan cintai sejak umur dua belas tahun. Giok Hong. Giok Hong dicintai sebagai simpanan oleh si tua yang memilih untuk melajang. Seorang juragan orkes Cina “Tjahaja Timoer” yang insting berhitungnya membawa ia pada bisnis jual beli tanah dan hasil bumi di wilayah Semarang dan pantai utara Jawa.

Nasib membawa Giok Hong untuk dicintai oleh Oen Kiat, karena cintanya sendiri pulalah Ong meregang nyawa akibat serangan jantung. Giok Hong kemudian direnggut dari Tek Siang oleh istri Oen, Cik Lena. Politik keluarga bertujuan harta membinasakan istri dan anak anak Oen Kiat di tangan adik kandung Oen. Bahkan ketika massa berkabung belum selesai.

Beruntung Giok Hong berhasil lolos dari kematian. Setahun kemudian ia lahir kembali dengan identitas baru ; Boenga Lily. Bekerja sebagai biduan di rumah makan Mei Wei milik Tan Kong Gie.

Tak ketinggalan penggambaran situasi politik kala itu. Chaos nya keadaan kota melatarbelakangi tutupnya rumah makan Mei Wei. Arogansi aparat militer semakin menguarkan aura mencekam pada cerita. Penjarahan berdasar fitnah bahwa etnis Tionghoa adalah antek komunis turut serta meramaikan cerita. Lengkap dengan salebaran “Revolusi Setengah hati” dan “Waspadai Kafir Baroe” (lebih dari cukup untuk membuat saya tersenyum kecut).

cerita yang tragis, sinis, namun secara mengejutkan : manis.


MESIN WAKTU YANG MEMABUKKAN

seorang Handry TM menyihir saya dengan pesona deskripsi waktu, latar, dan bahasa.

saya dipaksa untuk kembali ke masa lalu pada dua masa berbeda dekade. daerah pecinan Gang Pinggir Kota Semarang tahun 1960 an, ketika bangsa ini masih belum benar benar mengerti arti kemerdekaan berbangsa. sekaligus ke masa lalu dimana saya masih bersama pacar beda agama saya yang getol mendorong saya belajar bahasa mandarin.

Bingung, siapa melawan siapa. Siapa dipengaruhi siapa. Ditambah trauma penjara semakin membuat saya mabuk dalam perjalanan mesin waktu novel ini. Kemelut politik dan kekuasaan di bab bab akhir cerita terasa sangat pahit.

Peran ganda cik Lily dalam novel ini sangat krusial. Singkatnya ; pelacur di bawah lampion.

tidak mudah mendapatkan novel ini. setelah gagal mendapatkan di toko buku tempat buku ini diterbitkan, saya akhirnya menemukan di rak bagian karya sastra khusus di perpustakaan daerah kaltim.

novel ini lantang meneriakkan sejarah lebih fasih dibanding buku sejarah jaman saya sekolah. sebuah fakta kelam bahwa ada yang terlupa dari mereka yang disebut Bhineka Tunggal Ika. 

karena zaman begitu tega menghapus jejak sejarah yang tidak berguna. 





Samarinda, 18 Juli 2017




Riffat Akhsan


You May Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.