Ujung Langit Tambak Wedi

by - September 14, 2017


ps : tulisan ini saya dedikasikan untuk Mas Bowo dan Mbak Nadia (Happy Wedding for you two ! ) serta untuk seluruh teman teman saya di Surabaya. ini tulisan yang sangat panjang. prepare your time, please.

oke, bismillahirrahmanirrahiim

di sebelah barat jembatan Suramadu, ada  tambak dimana saya selalu kesana tiap saya sedih, perlu menenangkan diri, atau cuma sekedar pengen liat langit aja. nggak terlalu jauh lah sama rumah saya dulu di Pantai Mentari.

di sebelah baratnya lagi, ada rumah Mas Bowo yang sekarang udah resmi nikah sama Mbak Nadia. happy wedding mas, mbak. akhirnya ya tembok tebal itu runtuh juga :)

kepindahan saya satu tahun lalu mengagetkan. bahkan diri saya sendiri pun.

dari awal saya sadar teman teman di Surabaya bertanya tanya tentang siapa saya karena saya dan Rusma tidak pernah mau menjawab pertanyaan yang menjurus ke latar belakang dan Alhamdulillah saya diberi teman teman yang dewasa untuk tidak memaksa saya demi meluapkan hasrat kepo.

tapi ya, saya berutang penjelasan ke kalian semua.

jadi, saya adalah anak seorang pejabat publik yang kebetulan sebelum masuk ke dunia politik beliau menjabat sebagai presiden direktur dari sebuah holdings yang terdiri dari beberapa perusahaan yang bergerak di bidang Media, Hospitality, dan sebagian besar bergerak di sektor konstruksi (konsultan, kontraktor spesialis reboisasi, reklamasi, revegetasi, dan general contractor).

singkatnya saya (juga Rusma dan adik adik saya) adalah seorang pewaris dari enterprise holdings

sampai disini puzzle mengapa saya berbeda sudah mulai terungkap.





SEMUA BERAWAL DARI USAHA MEMBUKTIKAN DIRI TANPA BAYANG BAYANG ORANGTUA



saya sudah sadar bahwa saya berbeda sejak saya SD. banyak guru guru yang seringkali menekankan perihal orangtua saya. padahal sebagai anak SD saya masih belum ngerti ngerti banget seberapa besar pengaruh orangtua saya di masyarakat.

masa masa SD saya, saya lalui dengan cukup sulit. saya sudah mulai merasa ada bayang bayang yang menuntut saya harus selalu bisa, karena kalau nggak pas dikit aja sudah mulai ada yang bahas bahas orangtua saya.

kemudian waktu kelas 5, saya minta lanjut sekolah ke Pondok Pesantren di Jawa. masih belum tau juga mau dimana karena saya taunya cuma Gontor yang sebenarnya saya kurang yakin bisa bertahan di sana.

episode pencarian SMP dimulai, sampai akhirnya mama saya dapat informasi bahwa teman semasa kuliahnya di Jogja dulu kini menjadi istri Kyai di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

hingga akhirnya diputuskan SMP saya dilanjutkan di Jombang.

masa masa SMP adalah masa masa yang cukup sulit. saya yang orang asli kalimantan harus berbaur dengan teman teman yang beberapa diantara mereka tidak mampu berbahasa Indonesia sama sekali. perbedaan bahasa dan budaya menempa saya menjadi minoritas di Jombang. diluar proses adaptasi budaya, bahasa, dan bermasyarakat, saya tidak melalui kesulitan apapun.

dan tujuan saya untuk keluar dari bayang bayang orangtua terwujud.

SMA di Darul Ulum mengantarkan saya menjadi kutu laptop. saat SMA juga saya memulai untuk menjadi blogger. kebijakan Sekolah dan Pesantren mengantarkan saya menjadi geeks, pecandu teknologi. disamping karena saya bisa mengobati sindrom minoritas, menulis membantu saya untuk merasa lebih baik. teknologi juga mengajak saya mencoba hal baru, bukan level geeks yang sampai bikin robot juga sih. tapi uprek uprek (bahasa apa ini ?) layout blog dengan bahasa pemograman HTML cukup menyita waktu saya diluar kegiatan pondok dan sekolah.

waktu SMA juga, saya punya guru tafsir yang benar benar membantu saya bertahan atas rasa frustasi menjadi minoritas. Alm Pak Imam Sugioto.

dengan beliau saya tau bahwa saya punya "ayah". saya tidak yatim piatu di Darul Ulum, ada orang yang selalu menerima saya apapun yang saya rasakan. beliau memegang rahasia saya mulai dari penglihatan indigo saya sampai masalah percintaan saya.

di kelas XI IPA 4 (2010 -2011) abah mendapat serangan fatal akibat manuver politiknya. disana setiap hari Senin dan Rabu pak Imam menunggu saya untuk follow up perkembangan kasus yang menimpa abah. selama delapan bulan kotak tissue beliau habis untuk mengelap air mata saya. sampai akhirnya abah dinyatakan bebas murni.

pak imam mengerti setiap masalah saya, bukannya menghakimi beliau  malah takjub dengan kekuasaan tuhan memberikan masalah yang luar biasa pada seorang remaja tanggung seperti saya. dimata beliau tidak ada satupun yang salah tentang saya. semua adalah cerita tuhan.

dari beliau saya mengerti hidup, bahwa dunia dan akhirat adalah sebuah kesatuan harmoni. bukan pasangan kontradiktif, beliau yang mengajarkan saya pentingnya kebersihan hati.

al - fatihah ila ruhi Bapak Imam Sugioto.


berkat internet juga, pada awal SMA kelas 3 saya diterima di jurusan Medical Science University of New South Wales, Sydney Australia. untuk jenjang sarjana.

satu hal yang sampai hari ini saya syukuri.

tapi, hasrat ingin membuktikan diri belum selesai sampai situ.

setelah lulus SMA, (tahun 2012) saya diterima di jurusan pendidikan dokter Universitas Hang Tuah, Surabaya.

naas, karena keserakahan saya mengejar pendidikan dokter Universitas Airlangga membuat kesempatan untuk berkuliah di Hang Tuah lepas. padahal tinggal daftar ulang dan kuliah.

kemudian thypus saya kumat.

sekedar informasi, thypus adalah penyakit langganan yang hadir kalau saya merasa sangat tertekan di Pondok.

6 bulan saya berjuang untuk melawan penyakit ini, praktis semua kampus yang menerima saya (baik UNSW maupun Hang Tuah) sudah menutup pintu karena saya nggak daftar ulang.

2013, saya bingung mau kuliah dimana.

karena saya sudah nggak ngerti mau ambil jurusan apa, jurusan kedokteran memaksa saya untuk belajar keras tapi selama sakit kerjaan saya cuma jalan jalan (kalau cukup sehat), istirahat sama ngeblog.

sempat mikir mau ambil jurusan desain komunikasi visual padahal saya nggak bisa gambar, mau ambil jurusan bisnis manajemen tapi takut  nanti setelah lulus di kantor bakal dipandang sebelah mata karena bukan lulusan Teknik Sipil.

Teknik Sipil, ITATS. Jodoh di saat saat terakhir yang menerima saya untuk kuliah.

dan kemudian saya menjadi mahasiswa Teknik Sipil ITATS kelas malam.

kehidupan mahasiswa saya luar biasa. saya masih berbeda. tapi saya berada di lingkungan yang mau menerima bahwa saya berbeda, bahwa saya minoritas, bahwa saya adalah anak kembar yang punya masalah sama anger management ( saya yakin kalian masih ingat insiden CHOCOLATOS di kantin ITATS malam antara saya, Rusma, Nanda dan Dessy. Dessy, for God's sake. I'm so sorry...)

di ITATS juga saya punya "sesuatu" sama "sesorang". nggak usah saya ceritain disini ya. nggak enak sama pacarnya. lagipula, itu semua sudah masa lalu.

2014 adalah tahun kebahagiaan saya sebagai mahasiswa. bareng Mas Gepeng (Azis Alfarichi) saya menjuarai Lomba Tender Cup D'village ITS yang hadiahnya dipake Mas Gep beli Iphone hahaha. trus kita semua anak sipil malam makan makan di rumah saya di Pantai Mentari.

saat itu saya benar benar merasa bahagia atas takdir tuhan atas hidup saya.

di ITATS juga saya punya pengalaman pacaran beda agama. ( nggak usah di kepo in soal ini, waktu itu saya jalan sama anak Teknik Sipil ITATS angkatan 2010 ).

kemudian 2015, godaan membuktikan diri muncul lagi.

disaat hingar bingar ledakan digitalnomics, saya ditawari menjabat sebagai Editor in Chief sebuah perusahaan di bidang konten digital. setahun kemudian saya menjabat sebagai Chief Operational Officer. cukup impresif karier saya disana, pernah mengisi satu tatap muka kontekstual di kelas bisnis manajemen Unair, pernah juga satu panggung menjadi panelis dalam satu forum technopreneur bersama perwakilan microsoft Indonesia dan perwakilan produsen laptop terbesar di Indonesia.


tapi takdir berkata lain, orangtua saya kurang ridho saya kerja sama orang lain. alih alih mengembangkan apa yang menjadi tanggungjawab saya.

2016, saya mengalami pengkhianatan yang sangat sadis di perusahaan teknologi tersebut. bersamaan dengan masalah yang sangat besar menimpa salah satu induk terbesar enterprise holdings. lebih mengerikan dari sekedar kasus hukum kontraktual perusahaan yang melibatkan jeruji besi.

defisit ekonomi Kalimantan Timur, dan masalah internal neraca perusahaan.

takdir itu memanggil saya pulang. meninggalkan kuliah saya yang tinggal dua semester (teman teman berencana wisuda bulan mei tahun depan (2018) , mungkin saya menyusul bulan mei tahun depan nya lagi (2019). di kampus yang berbeda.

episode Surabaya berakhir, takdir membawa saya ke Borneo.



HARI HARI SETELAH PINDAH KE SAMARINDA


menjadi pewaris enterprise holdings adalah tanggungjawab. bukan pilihan.

rumah saya itu di Bontang, 3 jam dari Samarinda. 6 jam dari Balikpapan.

area kerja saya meliputi Samarinda, Kutai Timur, Bontang. serta Malinau dan Nunukan (Kalimantan Utara) melalui perusahaan cabang.

hari hari sebagai Junior Executive dimulai.

saya menjadi mahasiswa pindahan di kampus swasta Samarinda. disini saya berjuang melawan tekanan senioritas yang sangat ingin saya ikut ospek (how funny is it ) sekaligus berjuang untuk tidak bersikap berlebihan karena mulai dari rektor sampai jajaran dosen mengenal siapa saya bahkan ketika saya masih bayi karena sejarah mereka bersama orangtua saya.

saya kembali dikucilkan dan dibully karena saya berbeda.


di kantor, saya dituntut untuk memahami tata kelola administrasi perusahaan, keuangan, pajak, dan teknis proyek konstruksi dengan cepat.

sepagian menghadiri meeting dan diplomasi alot demi stabilnya cash flow keuangan perusahaan, siangnya menyiapkan kontrak tender dengan nilai yang bisa bikin jantungan, sore ke proyek nagih hasil kalendering dan laporan harian, malam ngelembur ngerjakan gambar yang belum selesai.

atau sepagian ikut aanwijzing, sesiangan rapat progress report, agak sore ke proyek karena pancang pecah di proyek A, dan malam ngecor di proyek B.

kira kira begitulah takdir saya kini.

nggak ada lagi cerita ngobrol ketawaan selepas jam kuliah di kantin ITATS, nggak ada lagi janjian siang siang di depan WR untuk nyalin tugas, nggak ada lagi janjian mau ngasih jawaban ujian karena belum belajar.

karena hidup saya sekarang tersedot untuk kerja, nyelesaikan kuliah, meeting sama rekanan, lobby lobby lucu sama om om dan bapak bapak yang sudah pada punya anak seumur saya, ngerjain tugas kuliah sendirian (kadang bareng Rusma), dan sesekali ngeblog dan nonton youtube. ( Angga, you are promising Youtube content creator ! )



IS SURABAYA ALWAYS IN MY HEART ?





definitely yes.

Surabaya memberikan teman teman sejati yang tidak memandang latar belakang saya. mereka dengan berani mengajak saya cangkruk ke Trawas jam 3 pagi (berangkat dari Surabaya jam 12 an malam) dan setelah matahari terbit langsung balik ke Surabaya. mengajak saya camping ke Pulau Sempu yang terkenal karena segara anakan. sungguh merupakan pengalaman camping pertama dan terakhir saya.


mereka juga yang mengajak saya untuk ke Musem Angkut, tepat sehari setelah grand opening nya. kompak bersama untuk menunggu menjelang museum tutup demi bisa puas foto foto di seluruh spot yang ada.

Bromo, saling menjaga satu sama lain. sempat terpisah di Segara Wedi jam 4 shubuh. naik ke kawah bareng bareng, selamat tanpa kurang satu apapun dari berangkat sampai kembali ke Surabaya. 

begadang di rumah Mas Bowo bikin maket mata kuliah pengantar lingkungan Bu Siti. bakar bakar sate Bareng sebagai perayaan Idul Adha juga di rumah Mas Bowo. ( saya ingat banget waktu itu beli nanas banyak banget padahal yang dibutuhin sedikit aja :') ). selalu berangkat  bareng bareng tiap ada temen satu angkatan yang nikah.


saat saat itu benar benar membahagiakan, membuat saya mengerti bahwa diluar sana ada yang benar benar ingin menjadi teman saya. tanpa pamrih.

meskipun saya tau. mereka juga diam diam bertanya siapa saya karena ya, saya berbeda.


saya harap, dengan tulisan ini. teman teman saya di Surabaya mengerti bahwa ketika itu saya nggak bisa membuka, karena terlalu banyak rahasia yang harus saya simpan sendiri.

disamping fakta bahwa saya takut kalian berubah menjadi oportunis dengan membawa bawa perkara pertemanan baik untuk kepentingan tertentu.

saya nggak mau kalian berubah jadi jahat sama saya karena tau siapa saya.

afterall, terima kasih teman teman. telah datang dan memberi warna bahagia dalam hidup saya. kalian mengajarkan saya untuk dewasa dalam memandang hidup. keterbatasan itu pasti ada, tapi bagaimana untuk merasa baik dengan segala keterbatasan yang ada.

kalian adalah hadiah tuhan untuk saya di Surabaya.

sampai ketemu di waktu nanti :)

ah akhirnya, harapan saya untuk memberanikan diri menulis ini terwujud juga :))


itu maksudnya "they" sih bukan "he".




Bontang, 14 September 2017




Riffat Akhsan, yang bertekad segera ke Surabaya begitu takdir berbicara.

You May Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.