Father - Daughter Time !

by - July 27, 2018

abah saya dalam edisi testing wahana turun tebing

"kalau ada laki - laki yang minta kamu untuk jadi ibu rumah tangga aja, sementara dia bilang perusahaan cukup dihandle sama adik - adikmu, fix laki - laki itu egois dan nggak kenal kamu. kamu bukan perempuan di masa depan nya. pergi, pasti ada laki - laki yang mendukung karier kamu. yang mengerti bahwa bukan hanya laki - laki yang punya tanggungjawab ke orangtuanya. bahwa beberapa perempuan juga punya tanggungjawab ke perusahaannya"

saya terdiam mendengar statement abah saya, well abah saya memang tidak suka banyak berkomentar tentang love-life saya. tapi perkataan beliau diatas membukakan mata saya, dan menguatkan keyakinan saya kenapa wali itu ayah. ya karena ayah lah yang paling objektif dalam membesarkan putra - putrinya.

saya respect dengan abah saya. sebagai ayah maupun sebagai presiden direktur. 

di kantor, dari senin - jum'at saya nggak kerja langsung dengan abah saya. gap nya jauh antara junior executive yang baru nyicip dunia korporat dengan presdir yang sudah eksis hampir 20 tahun.

nggak level shayyy.

jadi, saya kerja sama salah satu direktur senior di holding company ini. 

barulah hari sabtu - minggu saya gabung di tim perencanaan bersama abah saya. sebuah tim yang bertugas merencanakan, mengelola, dan mengembangkan sebuah kawasan resort yang cukup prestisius beberapa puluh kilometer dari kantor saya. 

hari sabtu - minggu ini lah yang sering saya sebut sebagai Father - Daughter time. setiap minggu kami memiliki agenda di lapangan yang cukup padat namun beruntungnya memberikan saya dan saudara kembar saya waktu lebih untuk berdiskusi dengan abah. baik diskusi tentang perusahaan maupun tentang kehidupan.

namanya juga Father - Daughter time. maka, biasanya umi saya nggak ikutan. disini saya bener bener digembleng untuk do operation. karena ketika jabatan saya udah naik ke senior executive saya nggak mungkin lagi bisa do operation karena saya akan banyak di management.

kegiatan saya disini udah kayak romusha lah, rapat luar kantor, ngawas tukang, ketemu masyarakat, ngecekin pompa kolam renang, bersih - bersih, nyabutin rumput YESS KALIAN NGGAK SALAH BACA, SAYA NYABUTIN RUMPUT. sampai testing wahana yang masih dalam tahap riset. kegiatan di kawasan ini udah persis camping, berasa mapala deh saya. kebayang kan kegiatan kayak masak, dll nya ? ya gitu deh. 

but i had so much fun.

saya sangat beruntung memiliki abah yang tidak patriarki. yang memandang bahwa pada hakikatnya anak perempuan memiliki kuasa dan tanggungjawab yang sama meskipun berbeda bentuk implementasinya. 

ayah itu berbeda karakternya dengan ibu. memang, anak perempuan lebih mudah membangun komunikasi dengan ibu karena sama - sama perempuan. tapi sebagai anak saya rasa kita juga wajib membangun komunikasi dengan ayah. mungkin bisa dimulai dengan mengungkapkan bahwa kita sayang dengan ayah, atau ya gitu, kalau memang waktunya father - daughter time dimaksimalkan sebaik - baiknya.

karena karakter ayah bagi anak perempuan itu cenderung tidak ekspresif, tidak seperti ibu. sehingga butuh waktu untuk anak perempuan mengerti bentuk kasih sayang seorang ayah kepada anak perempuannya diluar limpahan materi.

saya juga sering salah paham sama abah saya, ya sesimpel karena struktur berpikir saya beda. tapi percayalah, didikan  seorang ayah membuat anak perempuannya memiliki mental tangguh dan tahan banting. 

ya itu tadi, mungkin saja kalau ayah saya nggak ngomong hal diatas bisa jadi saya salah dalam melihat laki - laki. bahwa memang sebelum memutuskan bersama, saya harus memastikan bahwa seorang laki - laki yang mau jalan sama saya tau bagaimana ayah saya mendidik saya membentuk pola saya bertahan hidup di dunia. 

saya pernah bikin penawaran tender sama abah saya dan staff nya sampai jam 3 shubuh. diajak meeting dimana hanya saya perempuan dan berusia muda. ngecor sampai jauh malam, menembus hutan dengan mobil gardan selama 12 jam menuju lokasi proyek, begadang bikin invoice, kena revisi 500 halaman waktu bikin laporan akhir, bertemu dengan para vendor dan kontraktor, itu semua bentuk didikan dari ayah saya yang mengharapkan anak perempuannya mewarisi keberlanjutan perusahaan dengan porsi sama besarnya dengan anak laki - lakinya.

so gentlemant, ketahui dulu rencana hidup masa depan pasanganmu melalui bagaimana ia dididik oleh ayahnya. 

and ladies, bangun komunikasi dan hubungan baik dengan ayahmu. niscaya engkau akan tau laki - laki seperti apa yang tepat mendampingimu.





Bontang, 27 Juli 2018




Riffat Akhsan, yang harus nikah dulu untuk bisa naik jabatan.

You May Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.