Tips Ngantor Waras 101

by - May 01, 2019

Photo by Helloquence on Unsplash

masa - masa tender dan persiapan termin invoice ditambah sparks joy berupa pemberitahuan adanya contract change order/addendum adalah masa - masa saya nangis darah.

masa - masa ini semua orang kantor senggol bacok karena tensi tinggi. apalagi karena budaya kantor saya Korea dengan palli - palli nya.  rasanya di masa - masa ini saya ingin membelah diri  berdasarkan jumlah proyek yang saya tangani.

tapi kan saya manusia ya, bukan amoeba. jadi mukjizat kalau saya bisa membelah diri.

kalau udah di masa - masa ini orangtua saya udah no comment liatin anaknya nggak ngerjain kerjaan rumah sama sekali. bangun tidur, shalat, ngebekal roti sama kopi, berangkat ngantor. pulang kantor makan sore. ngendon di kamar laptopan ngerjain kerjaan trus langsung tidur. keluar cuma buat shalat sama ke kamar mandi.

capek, jelas. stress, udah pasti. meskipun menurut saya benefit yang saya dapatkan jauh diatas capek dan stress nya.

ini cara saya tetap bertahan di masa - masa senggol bacok ini :

Time Management, Energy Management.


Photo by Trent Erwin on Unsplash

dalam masa - masa ini, instruksi bertubi - tubi adalah pasti. saya harus siap dengan revisi dan tambahan instruksi berkali - kali. namun, saya punya kartu. namanya deadline. saya bisa menyusun timeline kapan pekerjaan saya harus selesai. saya juga memiliki sekian hari dikali dua puluh empat jam selama timeline tersebut. saya juga punya waktu dua puluh empat jam yang bebas saya atur untuk menyelesaikan tugas tersebut.

dalam satu hari, tidak mungkin energi saya selalu full charge. karena tubuh saya ibarat baterai handphone : bisa lowbat.   hal inilah yang amat sangat cerdik harus diatur. saya membagi kapan saya harus tidur, makan, ibadah, dan bersantai. dalam sehari semua aspek itu harus kebagian porsi. biar kondisi mood dan tubuh saya terjaga guna mencapai target. 

karena saya sama sekali tidak berniat resign.

Organizing My Worklist, dan Mengurutkannya Sesuai Skala Prioritas.



Photo by Renáta-Adrienn on Unsplash

analoginya seperti teknologi big data. saya menulis semua worklist saya ke dalam agenda harian. mas gebetan menyarankan saya memakai aplikasi evernote dan google calendar. namun saya tidak secanggih doi. karena ketika saya pegang hape, prioritas adalah twitteran dan menyimak instagram story.

sehingga saya lebih nyaman dengan agenda manual. saya tulis semua worklist saya. semua mua nya. kemudian saya kelompokkan berdasarkan holdings dimana worklist itu bernaung. apakah ini "pesenan" perusahaan A, perusahaan B, atau perusahaan C.

Photo by STIL on Unsplash

saya juga harus mempertimbangkan agenda - agenda di luar kantor yang pastinya energinya beda dengan kalau saya full seharian di kantor aja. kalau ada agenda keluar, waktu efektif saya di kantor bisa cuma setengah hari aja. bahkan bisa kurang dari itu.

kalau memang seharian full ngantor, saya juga harus perhatikan para rekanan saya. karena di masa - masa ini bahkan makan siang aja kami harus bergantian. juga karena saya adalah yang belum nikah, saya yang harus back up rekanan saya di jam - jam mereka harus keluar buat jemput anak sekolah.

kemudian masing masing worklist yang sudah dikelompokkan berdasarkan holdings nya tadi saya beri keterangan tingkat kerumitan, pressure, dan deadline kapan tugas itu harus diasistensikan. setelahnya saya baru bisa menyusun skala prioritas mana dulu yang harus saya kerjakan.

Photo by Felipe Furtado on Unsplash

Membuat Target yang Terukur Sesuai Timeline.


Photo by Alesia Kazantceva on Unsplash

kembali lagi ke analogi teknologi big data. pekerjaan saya di kantor itu punya target sendiri - sendiri sesuai dengan karakteristik tugasnya.

setelah saya organize mereka semua, barulah kemudian saya bisa menyusun target harian saya. tentu target ini terbagi menjadi target optimis dan realistis. optimis kalau saya full seharian di kantor. realistis kalau - kalau saya ada agenda keluar ataupun force majeur yang mengharuskan saya keluar kantor.

target - target ini membantu saya untuk fokus. bahwa pekerjaan bukan sesuatu yang bisa selesai sekali duduk. mungkin itulah mengapa saya didrill mampus di kampus dengan tugas besar dan tugas akhir. bahwa yang bernama mengemban tanggungjawab itu tidak instan. ia perlu proses dan kesabaran.

target - target dan baby step ini juga memberikan ruang pada saya untuk mencari solusi bagi diri saya sendiri dan orang - orang di bawah saya jika dalam roda pelaksanaan pekerjaan terjadi masalah.

hei, bukankah pekerjaan itu sendiri adalah bagian dari pemecahan masalah ? kalau nggak ada masalah ya nggak ada pekerjaan dong.

Photo by William Iven on Unsplash

Menyempatkan Diri untuk Istirahat dengan Nonton Korea / Serial / Badminton di Tengah Jam Kantor.



Photo by Jens Kreuter on Unsplash

yang namanya kerja pasti ada waktu istirahat dong. saya biasanya menggunakan waktu ishoma untuk makan sambil nonton drama Korea/serial yang lagi on going. kalau kebetulan pas ada turnamen badminton, saya biasanya streaming di waktu istirahat sore.

ya karena saya suka nonton ya. sehingga menurut saya nonton drama/badminton bikin saya nggak mikirin kerjaan dulu untuk sementara. fokus saya teralihkan sebentar untuk rehat. beberapa rekan saya ada yang tidur siang/baca buku untuk rehat. tapi karena saya bukan tipikal yang bisa tidur siang (meskipun kantor saya punya kamar istirahat karyawan), saya juga orangnya nggak bisa berhenti kalau udah baca novel. karena nagih ending banget novel - novel kesukaan saya itu. jadilah  saya lebih nyaman rehat dengan menonton drama korea/badminton yang durasinya bukan saya yang tentukan.

Photo by JESHOOTS.COM on Unsplash

Spotify Premium.

Photo by Sara Kurfeß on Unsplash

saya bukan tipe orang yang enjoy kerja dengan suasana hening ala perpustakaan seperti ibu saya. meskipun ya, kalau saya dituntut sangat fokus saya akan melakukannya. tapi jarang banget deh kayak gitu.

ada banyak pemutar musik di pasar digital, joox, apple music, dan spotify. setau saya.

spotify premium bukan untuk semua orang, mengingat harga langganannya. menurut penganut paham efisiensi.

kalau kamu dalam sehari frekuensi dengar lagunya rendah saya rasa nggak perlu upgrade ke premium. kecuali kamu kayak saya yang memang seharian music. selain karena frekuensi mendengarkan lagu yang tinggi, seringkali konsentrasi saya buyar kalau tiba - tiba disela iklan. 

saya mengakali biaya langganan aplikasi ini dengan tidak bertransaksi langsung via kartu kredit. saya memilih membayar biaya langganan melalui jasa pihak ketiga yang legal dan harganya jauh lebih murah. ada beberapa pilihan langganan di para pihak ketiga ini. ada yang perbulan, tiga bulan, hingga langganan per tahun. dengan harga maksimal seratus ribu.

di twitter dan e-commerce tersebar kok para pihak ketiga ini. cari aja. 


Photo by Fimpli on Unsplash

Jangan Lupa Bahagia

Photo by Rifky Naufaldy on Unsplash

saya selalu percaya, bahwa kita bisa menemukan sumber bahagia kita sendiri meskipun masih belum bisa liburan.

setiap orang punya caranya sendiri untuk bisa enjoy under pressure. ada yang memajang gundam di meja kantor, ada yang memasang lukisan mahal di ruangan, ada pula yang seperti saya. semakin tekanan kantor saya nggak waras, semakin saya berusaha ke kantor dengan make up, baju, sepatu terbaik (atau mungkin termahal). barang - barang ini adalah sumber bahagia saya.

untuk sementara. 

saya percaya barang - barang fashion bukan sekedar fungsi. ia karya seni. 

selain itu kadang ide ngeblog muncul di saat - saat seperti ini. sehingga saya bisa rehat sedikit dengan menyusun draft blog.

intinya, meskipun kerjaan lagi nggak santai. saya tetap harus bahagia.


Photo by Ty Williams on Unsplash


hidup dengan baik. ciptakan kebahagiaan. untuk dirimu sendiri. karena kita (para pekerja) berhak bahagia. 

Bontang, 1 Mei 2019




Riffat Akhsan, ---- Selamat Hari Buruh. Para Buruh - Buruh Kebahagiaan.

You May Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke www.riffatakhsan.com silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Copyright By Faizah Riffat Ma'rifah Akhsan. Powered by Blogger.