Catatan Akhir Tahun 2020 : Cooling Down, Pandemi, The True Me,

By Riffat Akhsan - December 23, 2020

      dikasih filter blue, biar dramatis

bohong kalau saya berkata "tidak terasa yaaa 2020 sudah mau berakhir aja" karena saya selalu menghitung hari demi hari kapan kiranya tahun ini akan berakhir.

sepertinya 2020 memberikan pelajaran tentang arti bersyukur sepanjang tahun. saya "dipaksa" untuk bersyukur sekecil apapun itu. 2020 mengajarkan tidak ada hal yang tidak bisa disyukuri, semua bisa.


Keluarga yang Alhamdulillah Sehat

saya bersyukur, saya dan keluarga selalu sehat. kalaupun sakit hanya penyakit flu atau kecapekan saja. hasil PCR pun Alhamdulillah selalu non reaktif. 



Lingkungan Kantor yang Tidak Toxic

saya beruntung berada di lingkungan kantor yang secara internal minim persaingan individu. office politics cukup bisa diredam karena kepentingan yang berbeda wadah. 

saya nggak bilang kalau kantor saya adalah yang terbaik. ingat, ini masih dunia. belum ada surga hakiki di sini. pasti ada kolega yang bermasalah dalam self management & drive dan bikin makan ati. tapi saya berprinsip bahwa hubungan yang harus sangat concern di maintain setelah hubungan pernikahan dan keluarga, adalah hubungan dengan kolega di kantor. karena saya bertemu dengan mereka dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore selama lima hari kerja (asumsi tidak lembur). jika saya kebanyakan makan hati dan terluka, kantor saya akan terasa seperti neraka.

in the other hand, para kolega tukang semai bibit amarah ini adalah orang - orang kiriman tuhan to sharpen my ability. menciptakan zona sulit agar saya tumbuh dan mudah mendaki langit.

yang berubah harus saya. saya harus pintar menyaman-kan diri saya dan berlapang dada jika ada bibit amarah muncul di dada. saya tidak bisa mengubah sikap dan karakter orang lain. tapi saya bisa mengendalikan bagaimana saya merespon. tentang apa yang saya rasakan, saya masih punya tuhan untuk mengadu dan sederet shopping mall untuk buang sakit hati. 


Rekanan yang Supportif 

sebagai konsultan, tidak jarang menemui owner yang arogan dan sulit sekali diajak koordinasi. masih banyak owner yang berpikiran "lu kan udah gua bayar mahal - mahal, yaudah sini mana hasilnya. nggak usah bikin repot gue dengan minta data ini itu".

saya lagi - lagi beruntung menangani proyek dengan rekanan "ramah" dan supportif. meskipun memang mereka demanding, tapi itu sejalan dengan dukungan yang mereka berikan to make this project works.  

apakah semua mulus dan too good to be true seperti serial Emily in Paris ? oh tentu saja tidak. again, workload owner kadang beyond expectation. itu berpengaruh juga sama self management & drive dari setiap individu di sana. masa sulit pasti ada, tapi Alhamdulillah meskipun berat selalu ada solusi.

yang nggak enak ada ? pasti dong. karena saya (dianggap) masih muda, belum menikah, dan tinggal di dekat kantor. sasaran tembak lembur dan laporan kejadian tidak terduga di luar jam kantor sudah jadi makanan sehari hari. 

trus sering banget di - cengin sama mereka - mereka yang juga belum menikah. bagaimana rasanya digojlokin dan dibully (on positive way) oleh dua sampai tiga orang tenaga ahli yang sama sepanjang tahun ? ya, seperti itu. takut baper.


Pandemic, Time Relativity, God's Destiny

di tahun ini ada banyak sekali barang yang saya inginkan. kemudian karena satu dan lain hal tidak bisa terbeli. kemudian selang beberapa waktu, tuhan membuat barang - barang tersebut bisa terbeli. 

saya menyadari bahwa tuhan maha melihat, maha mendengar, and he gives me at the right time. hal ini terjadi lebih dari sepuluh kali di tahun ini. lagi, 2020 menyadarkan saya bahwa bukan saya centrum dunia. ada tuhan yang memegang cerita. 


Cooling Down and Find The True Me

di tahun ini saya diminta untuk cooling down dari rencana ambisius berjangka saya. rasanya aneh, hanya menjalani hari - hari tanpa melakukan langkah - langkah kecil untuk tujuan besar. paling mungkin hanya mengangkat tangan dan mendaki langit.

namun hal ini membuat saya menjadi lebih mendengar suara dalam diri. menulis tanpa ambisi, ini salah satu impact dari cooling down ini. hasilnya saya jadi pivot dari yang tadinya lifestyle blogger di kala senggang karena sibuk memenuhi tuntutan audience dengan menulis di media arus utama, menjadi lifestyle blogger dengan tulisan berbasis product. saya jadi lebih happy karena ada keseimbangan antara menulis dengan tuntutan dan menulis suka - suka di blogger. 

sebelumnya saya selalu tidak sempat menyelesaikan tulisan di blog ini. seringkali berakhir hanya menjadi draft yang akhirnya saya hapus. karena saya berpikir menulis di sini harus sama bermutu nya dengan menulis di media arus utama. jika effortnya sama, lebih baik saya menulis di media arus utama saja karena di sana jelas berapa ratus audience demanding yang setia menunggu tulisan baru.

hidup bukan untuk mencari kesempurnaan. tapi untuk live to the fullest. live my life. 

 


HERB

he is my biggest gratitude all the year. ini memang masih seumur jagung. ini hidup dalam doa. tapi kami akan terus bekerja sama dan bekerja keras untuk hubungan ini.

After All, 2020 Means...

2020 memberi saya tawa, air mata, hadiah, pusing kepala, dan lain sebagainya. ini berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya. namun saya bersyukur saya masih bertahan di tahun ini hingga tulisan ini ditulis. 
untuk 2021, saya berharap mendapatkan lebih banyak kebaikan dan keberkahan. mensemogakan apa apa yang didoakan. amin.

happy New Year 2021




Balikpapan, 23 Desember 2020





Faizah Riffat -- yang besok pagi mau pulang kampung dan kembali awal tahun 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke sini. silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)