Takdir : Ia Presisi dari Sudut Manapun

By Riffat Akhsan - August 08, 2021


petualangan saya mencari pantai gratis dekat kantor di Balikpapan bisa dibilang cukup berliku. 

bukan, saya tidak ingin mencari pengganti Pantai Kampung Manggar yang sangat indah itu. namun, saya hanya bisa mengunjungi pantai itu di hari minggu dengan catatan cuaca cerah. karena di hari lain saya tidak berani ke sana jika menyetir sendiria. saya punya masalah mental berhadapan dengan kendaraan besar yang merupakan bagian tak terpisahkan dari heavy industri kawasan Manggar - Lamaru.

harapan saya ditugaskan ke Balikpapan itu hanya satu : saya bisa menikmati pantai gratis kapanpun saya mau. bukan pantai wisata. tapi lebih ke pantai lokal yang jarang diketahui wisatawan luar Balikpapan.

saya sudah sangat bersyukur memiliki Pantai Kampung Manggar sebagai sanctuary. namun beberapa kali pengalaman saya ke sana dalam situasi hujan mengguyur deras. saya, yang tubuhnya gampang tumbang oleh flu, thypus, dan maag ini kemudian menginginkan destinasi pantai di kota. pantai yang setiap pulang kantor bisa saya kunjungi ke sana.    


mungkin ada kali dua bulan. setiap hari minggu pagi sampai siang saya habiskan untuk survei pantai pantai di garis Jalan Marsma Iswahyudi sampai Pelabuhan Semayang. mencari pantai gratis yang ramah untuk saya kunjungi sepulang kantor.

dalam perjalanan ini, sejauh yang saya ingat saya menemukan tiga pantai di kota yang berpotensi menjadi tujuan saya mendengar ombak dan merasakan halusnya pasir di telapak kaki. pertama adalah pantai Balikpapan Permai. pantai ini sekaligus menjadi private beach salah satu hotel berbintang di kawasan Balikpapan Permai. pantai yang kata atasan saya, Dewa Kemakmuran merupakan hotel spooky. beliau kalau dapat jatah kamar sekalipun di hotel ini tetap akan memilih pulang ke rumahnya di kawasan Bukit Damai Sentosa.

saya ke pantai Balikpapan Permai ini. berjalan menyusuri perkampungan kecil di bibir laut. kampung yang bahkan sepeda motor saja kesulitan untuk masuk saking sempitnya. di sini saya lagi - lagi melihat disparitas sosial yang teramat ironis. mungkin harga satu malam di hotel berbintang itu sama dengan penghasilan satu bulan masyarakat di kampung sebelahnya. padahal, mereka berbagi pantai yang sama.

keputusan untuk menjadikan pantai ini sebagai tujuan saya rasanya sudah hampir final, jika saja saya tidak bertemu dengan sorot mata khas preman dari pemuda berusia tanggung di pos kamling.

pantai ini tidak ramah untuk saya. begitu kesimpulan saya berdasarkan energi dari sorot mata pemuda kampung tersebut. 

kedua adalah pantai Enggang Borneo. masuk ke pantai ini haruslah melewati komplek pergudangan yang mengingatkan saya pada base camp proyek kontruksi. beberapa alat terparkir seperti excavator dan beberapa buah dump truck. di antara itu terdapat rumah - rumah kayu dan warung -warung. sepertinya penduduk komplek ini tercampur antara penjaga gudang dan nelayan.

pantai ini amat Artsy, merupakan titik kumpul para seniman dan aktivis peduli konservasi terumbu karang Balikpapan. sebuah pantai dengan bangunan etnik indah berbahan kayu dan pernak - pernik kesenian yang memukau. sayang, seperti pada umumnya survei pertama. saya tidak pernah membawa handphone sebagai mitigasi risiko keamanan.  

pada saat kesana, saya tidak bertemu dengan siapapun. hanya ada kucing galak, yang setelah saya bicara padanya saya hanya ingin jalan - jalan di pantai terus mengikuti saya. mungkin dia masih belum bisa percaya saya tidak akan mengambil properti apapun.

saya sudah excited ingin mengambil bagian dari gerakan aktivisme konservasi terumbu karang. di pantai ini, saya sudah membayangkan akan menaiki kapal dan menyelam untuk menanam terumbu karang di perairan dangkal bersama aktivis yang lain. saya juga berencana untuk mengobrol dengan para seniman di sana, siapa tau ada dari mereka yang merupakan script writer sehingga saya bisa berdiskusi tentang menulis agar saya lebih baik lagi bercerita di blog ini.

namun, hingga matahari tepat di atas kepala. tidak ada satupun yang bisa saya temui dan hubungi. puncaknya ketika kembali ke parkiran, saya dihadang oleh segerombolan anjing yang menggonggong luar biasa keras. saya, yang sangat takut anjing ini berdiri terdiam dan berdoa. 

"Ya Allah, selamatkan saya keluar dari tempat ini. para anjing ini sudah cukup untuk menjelaskan pesanmu bahwa pantai ini bukan takdir saya"

dua puluh menit kemudian, secara ajaib seluruh anjing itu pergi. saya juga tidak mengerti. mereka membiarkan saya lewat dan bergegas pergi dari tempat itu. tidak ada lagi hadangan, tidak ada lagi gonggongan. saya pergi dengan keyakinan itulah kali pertama dan terakhir saya mengunjungi Pantai Enggang Borneo Balikpapan.


pantai ketiga, Pantai Belakang Bandara / Pantai Ujung Bandara Sepinggan / Pantai Sepinggan. 

awalnya hari minggu itu saya tidak berani melajukan kendaraan karena banyaknya supir truk container berenergi gahar khas pejuang aspal. saat saya menulis ini, saya bisa mengerti, karena ternyata mereka heran. saya ke pantai di siang hari. umumnya pengunjung Pantai Sepinggan datang di pagi hari atau sore hari lepas ashar. dimana memang bukan jadwalnya para truk ini melakukan bongkar muat.

percobaan kedua, sore pulang kantor. saya amat sangat bahagia sampai tidak sabar membuat tulisan khusus di blog ini. sudah saya upload. cari sendiri ya tulisannya yang mana di related article bagian bawah tulisan ini.

kedatangan kedua saya, karena persis setelah jam pulang kantor tentu saja saya membawa handphone dan mengabadikan momen. membekukan suasana sebagai validasi keputusan final ; inilah pantai yang saya cari.


seperti tulisan saya kala itu, Pantai Sepinggan saat saya kunjungi kali kedua posisi sedang surut dan saya belum beruntung melihat pesawat lepas landas.

pada kunjungan ketiga, di hari jum'at. jam pulang kantor saya lebih cepat setengah jam dari biasanya. langsung saya bergegas ke pantai ini. sepertinya saat itulah takdir saya sampai. ombak bergulung dengan indah karena laut yang pasang. bathimetri pantai ini yang memang memiliki varian elevasi kejaran dan kelindan ombak dalam perjalanannya mencapai daratan menghasilkan suara indah yang berbeda. suara debur ombak yang tidak saya temui di Pantai Kampung Manggar.

saya melepas sepatu. merasakan halusnya pasir pantai yang berwarna putih saat kering. menyusuri garis pantai yang amat panjang dengan keceriaan penduduk lokal kelurahan Sepinggan dan antusiasme geng klub bola yang bermain di lapangan Trakindo Lama.

saya duduk di atas batang kayu dan menatap laut dengan syukur. tampak rig milik perusahaan minyak negara di kejauhan, ada pula kapal penuh container yang sudah memulai perjalanan keluar dari alur pelayaran Pelabuhan Semayang. serta kapal nelayan dengan suara mesinnya yang khas membelah lautan dengan keberanian pelaut sejati.

lama saya duduk dalam posisi itu. tidak henti bersyukur, bahwa keinginan saya diijabah Allah. memiliki destinasi pantai yang indah, banyak pengunjungnya (tapi tetap bisa jaga jarak), gratis, dengan aksesibilitas yang mudah dari kantor.

kemudian saya mendengar suara deru mesin. saya masih belum sadar kalau itu suara deru mesin pesawat take off. sakingnya saya overwhelm dalam balutan takdir. sampai akhirnya saya melihat pesawat citilink melintas di atas kepala saya. buru - buru saya memotret momen ini. menjadikan foto penuh komposisi di awal tulisan ini. 

setelah itu saya simpan handphone saya. tidak percaya bahwa lagi - lagi, takdir saya ingin melihat pesawat take off dari Pantai Sepinggan sudah tiba. belum selesai sampai di situ, sepuluh menit kemudian saya terpana melihat pesawat Garuda Indonesia yang take off ke langit Balikpapan. saya terdiam, mata saya mengikuti arah terbang sang burung besi melawan angin. saya ikuti ia sampai hilang dari pandangan. air mata saya menghangat. saya hanya ingin melihat satu saja pesawat take off, tapi Allah kasih dua.

***

takdir, yang presisi dilihat dari sudut  manapun. 

ini adalah ikhtibar dalam perjalanan saya menemukan pantai di dekat kantor. dari sudut aksesibilitas, ini yang paling dekat dari kantor dan tempat tinggal saya. ia yang memiliki luas area paling besar. iya yang memiliki garis pantai terpanjang. ini yang memiliki pengunjung setia (entah untuk ke pantai entah untuk bermain sepak bola). 

begitu pula tentang waktu, Allah meminta saya bersabar tidak bisa melihat pesawat take off ketika laut sedang surut. kemudian, Allah menakdirkan saya datang di hari jum'at. di saat waktu untuk menikmati pantai lebih panjang dibandingkan hari biasa. di saat laut pasang. di saat langit cerah. 

jika bukan karena Allah dengan takdirnya yang sempurna. visual dengan komposisi memukau di awal tulisan ini tidak akan tersaji di hadapan kalian.

Alhamdulillah, Allah maha baik.





Balikpapan, 8 Agustus 2021




Riffat Akhsan -- yang rencananya ke pantai hari ini siap eksekusi tapi batal karena ingat ada latihan panahan


  • Share:

You Might Also Like

0 comments

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke sini. silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)